BERPANCASILA PADA MASA CORONA

185

Penulis : Waridi, S.Pd.,M.M. – SMPN 2 Banjarnegara, Jawa Tengah

ManajemenPendidikan.Net – Banjarnegara, 1 Juni 2020

Hari ini, 1 Juni 2020 diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila. Sebagaimana diatur dalam Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila, maka pada hari ini merupakan hari libur nasional. Pada hari ini, pemerintah bersama seluruh komponen bangsa dan masyarakat Indonesia memperingati hari lahir Pancasila, pada situasi pandemik COVID-19 (Corona Virus Disease 2019). Salah satu dampak positif pandemik covid-19 adalah sungguh-sungguh dapat membangunkan nurani umat manusia untuk kembali pada kemanusiaanya, kembali pada kesejatiaanya sebagai makhluk sosial, yakni makhluk yang tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Kenyataan ini benar-benar dapat dirasakan dengan banyaknya personal maupun kelompok yang secara spontan tanpa instruksi merogoh kocek terpanggil membantu warga yang terdampak. Hal ini sesungguhnya merupakan praktik nyata dari ideologi dan dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia, yakni Pancasila. Walaupun diantara  warga, baik terdampak maupun tidak terdampak, dan juga para pejabat negara, aparatur negara pada masa corona ini sangat minim yang menyebut Pancasila, tetapi banyaknya uluran kebaikan, banyaknya bansos sembako yang membantu     meringankan beban berat kehidupan warga pada masa corona ini tentu telah benar-benar sesuai dengan falsafah hidup bangsa Indonesia, yakni Pancasila. Hal ini sangat baik bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara untuk selama-lamanya. Aneka bentuk pengembangan, praktik dan pengamalan Pancasila perlu terus dipupuk pada segala masa, terlebih-lebih pada masa pandemik covid-19 ini. Oleh karena itu, bersamaan dengan momen memperingati hari lahir Pancasila, sangat cocok jika kita bertanya bagaimana implementasi Pancasila ideologi dan dasar negara kita pada masa pandemik corona dapat diwujudkan dan benar-benar dapat dirasakan seluruh warga?

Religiusitas Diri

            Peraturan harus belajar dan bekerja dari rumah ini sangat mengagetkan, khususnya bagi para pelajar, mahasiswa, guru, dosen, karyawan dan maupun aparatur pemerintah. Hal ini mengakibatkan semua anggota keluarga penuh berada di rumah. Ditambah dengan peraturan beribadah di rumah, maka setiap pribadi memiliki banyak waktu untuk terus berada di rumah. Ada banyak sekali ketakutan yang mendera seluruh personil anggota keluarga. Ketakutan, kekhawatiran, kecemasan, kegelisahan yang muncul akibat maraknya berita kematian akibat covid-19 ini memotivasi setiap kita untuk ingat kepada Tuhan. Kesadaran ini banyak muncul di hati setiap manusia, kemudian bangkitlah mereka beribadah di rumah, berbuatlah mereka banyak kebaikan, menjagalah mereka pikiran dan ucapannya untuk terus berada pada kebaikan, dengan semangat mendekat kepada Tuhan. Dengan demikian pandemik corona ini dapat membangunkan semangat religiusitas diri umat manusia. Walaupun tidak diucapkan, sesungguhnya sikap dan perilaku warga yang demikian itu merupakan perwujudan pengamalan Pancasila.

Kolaborasi

            Di Desa Sokaraja, Kecamatan Pagentan, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah, kerjasama antara Umat Islam dengan Umat Buddha dapat diwujudkan secara nyata. Terbukti pada saat pelaksanaan salat Idul Fitri 1441 H, tanggal 24 Mei 2020 di komplek Gedung PLTA Tulis Desa Sokaraja, umat Muslim justru dijaga oleh Umat Buddha sesama warga Desa Sokaraja. Buka hanya dijaga keamanan kampungnya, tetapi Umat Buddha membantu melaksanakan protap kesehatan pencegahan penularan covid-19, dengan menyemprotkan obat pembasmi virus kepada seluruh Jemaah yang hadir pada saat itu. Kegiatan kolaborasi Buddha-Islam ini terbangun setelah  dua hari sebelum pelaksanaan, Panitia kegiatan tersebut menyampaikan rencana kegiatan kepada Pengurus Vihara Dharmasari. Terjadilah kesepakatan pembagian tugas, bahwa khusus di hari Idul Fitri tersebut Umat Islam beribadah dengan khusuk dan tenang, sedangkan persoalan keamanan desa, protap pencegahan covid-19, dan pengaturan parkir  sepeda motor, menjadi bagian Umat Buddha Desa Sokaraja.

Kolaborasi Islam-Buddha di Desa Sokaraja tersebut merupakan bentuk nyata pengamalan Pancasila. Nampaknya sangat sederhana, tetapi di dalamnya ada makna mendalam yang perlu terus dipupuk dan dikembangkan serta diwariskan dari generasi ke generasi, yakni nilai-nilai tenggang rasa, tepa selira, penerimaan, penghargaan, kerjasama, ketulusan, keikhlasan, dan tentu kemanusiaan.

Peduli Kebersamaan

            Dampak buruk pandemik covid-19 antara lain juga banyak PHK, pengangguran meningkat dan banyak warga kehilangan pekerjaan. Seiring dengan itu muncullah hati-hati bening yang peduli akan kebersamaan. Muncullah pegangan berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Gotong royong antara sesama warga kembali menjadi gaya peduli kebersamaan. Hal ini terbukti dengan banyaknya kelompok-kelompok warga masyarakat membagikan bantuan sosial berupa macam-macam pemenuhan kebutuhan pangan seperti beras. minyak goring, terigu, gula dan lain-lainnya. Hal ini pun sesungguhnya merupakan bentuk pangejawantahan pengamalan ideologi Pancasila.

 

Cinta Keberagaman

            Penjagaan keamanan desa, penjagaan kesehatan seluruh warga, dan aneka upaya untuk mencegah penularan covid-19 di setiap RT, RW, Dusun, Jalan dan Desa tentu dilakukan dengan tanpa memandang perbedaan suku, agama, ras dan antar golongan. Hal ini menggambarkan suasana kehidupan warga semakin harmoni, semakin selaras, semakin serasi, karena semua menjadi semakin cinta akan keberagaman sebagai fakta bagian kehidupan bangsa Indonesia. Tentu saja ini sangat sesuai dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika semboyan bangsa Indonesia, sekaligus merupakan praktik penerapan Pancasila dalam kehidupan nyata.

Taati Regulasi

            Banyak regulasi ditetapkan Pemerintah terkait pencegahan penularan covid-19 ini, misalnya: penggunaan masker, cuci tangan memakai sabun, jaga jarak, tetap tinggal di rumah, tidak mudik dan lain-lain. Terkait dengan peraturan-peraturan tersebut, memang ada sebagian warga yang kurang patuh, tetapi itu hanya sebagian kecil, sedangkan sebagian besar warga negara Indonesia yang lainnya cenderung mentaati, cenderung mematuhi. Ketundukkan warga terhadap peraturan yang ditetapkan oleh Pemerintah menggambarkan kesetiaan rakyat terhadap Pemerintahnya.Terasa benar keberadaan dan urgensi Pemerintah bagi rakyat. Jika ini terus berlangsung, maka Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dapat diharapkan kelestariannya.

Kesimpulan

            Masa pandemik covid-19 seperti memberikan a blessing in disguise (berkah tersembunyi) bagi penghayatan dan pengamalan Pancasila,  ideology dan dasar negara Republik Indonesia, antara lain religiusitas diri meningkat, terbuka terhadap kolaborasi sesama warga bangsa, semakin cinta akan keberagaman, peduli sesama atas dasar gotong royong, dan semakin dipatuhinya regulasi yang dikeluarkan oleh Pemerintah. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasar Pancasila semakin diperlukan oleh seluruh rakyatnya. Dalam diam seluruh rakyat mengamalkan Pancasila, maka pandemik covid-19 semogalah segera berakhir, Indonesia jaya dan bahagia berdasar Pancasila. Semoga demikian adanya. *)

 

DAFTAR PUSTAKA

Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila.

https://jdih.jakarta.go.id/uploads/default/produkhukum/Keppres_Nomor_24_Tahun_2016.pdf, diunduh hari Senin, 1 Juni 2020 pukul 10.00 WIB.

https://www.alodokter.com/virus-corona, diunduh hari Senin, 1 Juni 2020 pukul 11.10 WIB.

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Chat dengan Kami