Bolehkah “Calistung” Diajarkan di TK? Ini Aturannya

Jumat, Agustus 24th 2018. | Artikel, Desain Pembelajaran

KOMPAS.com – Masih banyak orangtua menginginkan anaknya begitu lulus Taman Kanak-kanak (TK) sudah bisa “calistung” (membaca, menulis dan berhitung). Sejalan dengan Surat Edaran Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah nomor 1839/C.C2/TU/2009 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Taman Kanak-kanak dan Penerimaan siswa Baru Sekolah Dasar, sebenarnya tidak diperbolehkan mengajarkan calistung pada anak usia dini. Yang diperbolehkan hanya memperkenalkan saja.

1. Tuntutan orangtua

Namun agaknya sebagian besar lembaga Pendidikan Anak Uusia Dini (PAUD) di Indonesia masih memberikan calistung dalam proses pembelajarannya. Kenyataannya, sekolah yang mengajarkan calistung lebih banyak dicari daripada sekolah yang tidak mengajarkan. Berawal dari pola pikir orangtua ini, seringkali guru hanya fokus mengembangkan potensi akademik (calistung) pada peserta didik. Bahkan ada yang cenderung mengabaikan potensi non akademiknya. Padahal semestinya peran guru sebagai fasilitator harus mampu menggali potensi akademik dan non akademik peserta didik sehingga peserta didik dapat mengeksplorasi pengetahuannya secara maksimal.

Terlebih pada anak usia dini struktur otaknya belum terbentuk secara sempurna. Karena itu semestinya konsep pembelajaran tidak hanya terpusat pada satu aspek perkembangan saja.

2. Enam aspek perkembangan

Menurut Sahabat Keluarga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) ada enam aspek perkembangan yang harus dikembangkan. Keenam aspek tersebut saling berkaitan, dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Adapun enam aspek itu ialah:
1. Aspek kognitif, berkaitan dengan proses berpikir anak.
2. Aspek motorik, segala sesuatu berhubungan dengan sensor gerak pada tubuh anak.
3. Aspek sosial dan emosional, terkait kemampuan mengendalikan diri, emosi, dan kepekaan terhadap lingkungan.
4. Aspek bahasa, berhubungan dengan kemampuan mengekspresikan perasaan secara lisan, serta bagaimana berkomunikasi dengan lingkungan sekitar.
5. Aspek seni, kemampuan anak mengeksplorasi kemampuan diri melalui seni, baik itu seni rupa, seni musik, seni tari, serta cabang seni lain.
6. Nilai agama dan moral, meliputi pengenalan nilai-nilai agama dianut, mengajarkan ibadah, pembekalan sikap keseharian anak, seperti berlaku sopan, tanggung jawab, jujur, menghormati orang lain, bersikap sportif, dan lain sebagainya.

3. Tidak ada unsur paksaan
Enam aspek tersebut sudah mencakup nilai akademik dan non akademik. Sehingga penting untuk menstimulasi semua perkembangannya. Alasan lain, kenyataannya setiap anak memiliki perkembangan berbeda-beda. Jadi, jika guru hanya fokus untuk mengembangkan nilai akademik (calistung), maka yang terjadi adalah ketidakseimbangan antara 6 aspek perkembangan anak. Itu berarti guru hanya mengembangkan sebagian kecil dari aspek kognitif saja, sementara aspek lain cenderung diabaikan. Dampaknya, dikhawatirkan anak akan mengalami mental hectic (merasa tertekan karena terlalu dituntut, bingung, cemas, dan takut), yang akan berdampak secara berkelanjutan.. Namun, apabila ada yang sudah mampu belajar calistung pada usia dini, itu merupakan pencapaian yang luar biasa dan tidak mengapa diajarkan. Dengan catatan, tidak ada unsur paksaan karena ekspektasi dari orangtua yang berlebihan.

Sumber: kompas

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Bolehkah “Calistung” Diajarkan di TK? Ini Aturannya “, https://edukasi.kompas.com/read/2018/08/20/20224461/bolehkah-calistung-diajarkan-di-tk-ini-aturannya.
Penulis : Yohanes Enggar Harususilo
Editor : Yohanes Enggar Harususilo

Facebook Comments

tags: , , , , ,

Related For Bolehkah “Calistung” Diajarkan di TK? Ini Aturannya