FIGUR YANG MEMBEKAS BAGI JIWA ANAK

Kamis, Maret 1st 2018. | Artikel

Oleh : ANTO HIDAYAT – Pendidik Di SDN Jagasatru 1 Kota Cirebon

Peristiwa Murid melawan guru menjadi peristiwa yang sangat menggemparkan pendidikan di Indonesia akhir-akhir ini. Bahkan di awal tahun 2018, ada seorang murid yang tega menyakiti gurunya sampai sang guru meninggal. Fenomena apa sebenarnya yang terjadi?  Terlepas benar atau salah atas apa yang dilakukan sang murid. Yang menjadi pertanyaan besar bagi kita adalah, Mengapa sang murid bisa bertindak seperti itu? Banyak faktor yang mempengaruhinya. Faktor yang paling kuat di antaranya adalah hilangnya figur orang tua yang ideal dalam kehidupan sang anak, khususnya dalam membina dan mendidik karakter anak.

Figur Orang tua merupakan figur yang paling berpengaruh dan membekas pada karakter anak. Dorothy Law (dalam Marjohan : 2010) mengatakan bahwa:
– Bila anak hidup dalam kecaman, dia belajar mengutuk
– Bila dia hidup dalam permusuhan dia belajar berkelahi
– Bila dia hidup dalam ketakutan, dia belajar menjadi penakut
– Bila dia hidup dikasihani, dia belajar mengasihani dirinya
– Bila dia hidup dalam toleransi, dia belajar bersabar
– Bila dia hidup dalam kecemburuan, dia belajar merasa bersalah
– Bila dia hidup diejek, dia belajar menjadi malu
– Bila dia hidup dipermalukan, dia belajar tidak yakin akan dirinya
– Bila dia hidup dengan pujian, dia belajar menghargai
– Bila dia hidup dengan penerimaan, dia belajar menyukai dirinya
– Bila dia memperoleh pengakuan, dia belajar mempunyai tujuan
– Bila dia hidup dalam kebijaksanaan, dia belajar menghargai keadilan
– Bila dia hidup dalam kejujuran, dia belajar menghargai kebenaran
– Bila dia hidup dalam suasana aman, dia belajar percaya akan dirinya
Kegiatan belajar dalam keluarga harus menjadi budaya yang selalu di hadirkan dalam membina keluarga. kalau masih ada orang tua yang berpendapat bahwa “pendidikan adalah tanggung jawab penuh dari sekolah saja”. Maka pendapat tersebut harus di tinggal jauh-jauh alias “KUNO”. Karena, sekolah bukanlah bengkel yang akan memperbaiki anak yang sudah rusak.

Kehadiran kita sebagai orang tua di tengah-tengah keluarga harus menjadi kesempatan yang berharga bagi anak-anak kita. Fauzil Adhim (2009) menyebutkan adanya sebuah riset yang menunjukkan penerimaan diri, harga diri, dan percaya diri anak sangat dipengaruhi kedekatan emosi aman (Secure Attachment) antara anak dengan orang tuanya.

Kehangatan yang terbina dalam keluarga, akan menjadikan kebutuhan batin anak terpenuhi. Terpenuhinya kebutuhan batin ini, akan menumbuhkan rasa percaya diri anak yang akan mengokohkan jiwanya. Kokohnya Rasa percaya diri anak, menumbuhkan kemampuan anak dalam menyelesaikan masalah dengan benar. Anak tidak mudah mencari jalan pintas dalam menyelesaikan masalahnya. Seperti melakukan kekerasan, menyakiti atau merugikan orang lain.

Memperkokoh jiwa anak dibangun dengan melakukan aktivitas bermakna  dengan membina kehangatan bersama anak. Fauzil Adhim (2009) menyebutkan 4 (empat) hal yang bisa dilakukan dalam membina kehangatan bersama anak, yaitu:

  1. Menjalin Kedekatan dengan Mereka
  2. Membangun kredibilitas kita sebagai orang tua.
  3. Membangun keyakinan, arah hidup dan cita-cita ideologis anak.
  4. Mengajarkan aturan hidup kepada mereka.

Kehangatan orang tua dibangun melalui kemauan orang tua untuk meluangkan waktu untuk anaknya. Waktu yang digunakan bukan hanya untuk bersama dengan anak, melainkan digunakan untuk sesuatu yang bermakna bersama anak. Kehadiran kita di tengah-tengah anak mampu menjadikan mereka merasa diperhatikan dan dicintai oleh kita. Bukan hanya menjadi teman pendamping kita bermain HP atau gadget, menonton TV ataupun kesibukan kita yang lainnya.

 

Sumber Pustaka :

Adhim, Fauzil, M. 2009. Saat Berharga Untuk Anak Kita. Yogyakarta: Pro-U Media.

Marjohan. 2010. Mendidik Siswa Cerdas Dan Beretika . Batusangkar,Tanah Datar

Sumber Gambar :https://blog.constancehotels.com/

Facebook Comments

tags: , , , , , ,

Related For FIGUR YANG MEMBEKAS BAGI JIWA ANAK