Gaya Kepemimpinan Seorang Pemimpin

Minggu, Januari 28th 2018. | Artikel, Manajemen Pendidikan

Max Weber dalam Syaiful Sagala, (2009) menjelaskan bahwa adanya tipe-tipe kepemimpinan yang didasarkan pada tradisi turun temurun, kharisma atau wibawa yang disebabkan karakteristik istimewa dan aturan yang rasional, atau campuran ketiga faktor tersebut. Keempat landasan lahirnya tipe kepemimpinan itu menimbulkan adanya berbagai gaya kepemimpinan. Pemimpin ada yang lahir karena memiliki hubungan darah atau familiar dengan pemimpin yang lebih dahulu memimpin pada suatu suku atau lembaga. Ada yang memiliki kharisma istimewa dan terlihat tanpa cela, sehingga kekaguman banyak orang mengangkatnya menjadi pemimpin. Atau memang terikat oleh auatu aturan yang rasional, sehingga muncul pemimpin yang lahir dari sebuah pemberlakuan sebuah undang-undang.

 

A.T.Soegito dalam Muhibbuddin Abdulmuid (2013) menguraikan beberapa gaya kepemimpinan yang dikutip dari Studi Kepemimpinan Universitas Ohio, yaitu

1 . Otoriter, Diktator, Authoritorian, autocratic

  1. Demokratis
  2. Kebebasan, free-rein, Laiseez-faire

Pemimpin otoriter memiliki indikasi; instruksi secara pasti, menuntut kerelaan “bawahan” harus melaksanakan, menekankan pelaksanaan tugas, melakukan pengawasan tertutup, ijin sangat sedikit, tiada bawahan mempengaruhi keputusan, bawahan tidak memberi saran, memaksa, mengancam dan menguasai untuk melaksanakan disiplin serta menjamin pelaksanaannya. Pemimpin demokratis indikasinya; komunikasu antara atasan dan bawahan, saling berpendapat, partisipasi bawahan dalam mengambil keputusan, penghargaan hak-hak seseorang. Pemimpin liberal indikasinya; kedaulatan diserahkan kepada bawahan, pengaruh atasan kecil terhadap bawahan, bawahan menentukan tujuan, bawahan memiliki kebebasan untuk memutuskan bagaimana mencapai tujuan-tujuannya. Dalam kepemimpinan otoriter, seluruh sumber daya manusia tingkat. Dalam PP No.17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelengaraan Pendidikan BAB I Pasal 1 (1 ), disebutkan bahwa Pengelolaan pendidikan adalah pengaturan kewenangan sistem dalam penyelenggaraan sistem pendidikan nasional oleh Pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah penyelenggara kabupaten/kota, pendidikan yang didirikan masyarakat, dan satuan pendidikan agar proses pendidikan dapat berlangsung sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Manajemen pendidikan hakikatnya sebuah poros penggerak yang merekam dan menampilkan manifestasi seluruh siklus aktivitas dunia pendidikan, yang setiap fungsi bekerja “mengampu” mata kerja yang spesifikasinya jelas dan memutar kembali siklus tersebut, sehingga mengalami peningkatan kualitas dan jenjang pengakuan, baik dari instansi terkait maupun masyarakat umum.

 

Siagian (2002) kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk memengaruhi orang lain, dalam hal ini para bawahannya sedemikian rupa sehingga orang lain itu mau melakukan kehendak pimpinan meskipun secara pribadi hal itu mungkin tidak disenangi.

Blancard dan Hersey (2002) mengemukakan, kepemimpinan adalah proses memengaruhi kegiatan individu dan kelompok dalam usaha untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu. Dubrin (2000) Kepemimpinan adalah upaya untuk mempengaruhi banyak orang melalui komunikasi untuk mencapai tujuan. Sunarto (2005) Kepemimpinan adalah proses memberi inspirasi kepada semua karyawan agar bekerja sebaik mungkin untuk mencapai hasil yang diharapkan

Hasibuan (2006) menjelaskan bahwa definisi pimpinan  adalah seseorang dengan wewenang kepemimpinanya mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian dari pekerjaannya dalam mencapai tujuan. Dari defenisi tersebut di atas dapat diambil implikasi sebagai berikut:

  1. Kepemimpinan menyangkut orang lain dalam hal ini bawahan atau pengikut, tanpa bawahan semua kualitas kepemimpinan menjadi tidak relevan.
  2. Kepemimpinan menyangkut suatu pembagian kekuasaan yang tidak seimbang antara pimpinan dan anggota kelompok. Dalam hal ini, pemimpinan mempunyai wewenang dalam mengarahkan pekerjaan untuk tercapainya tujuan.
  3. Pimpinan harus mampu mengendalikan orang-orang dalam organisasi agar perilaku mereka sesuai dengan perilaku mereka sesuai dengan perilaku yang diinginkan oleh pimpinan.

 

Muhammad Kristiawan, Dian Safitri dan Rena Lestari (2017) kepemimpinan adalah kualitas yang harus dimiliki seorang pemimpin dalam kegiatannya mempengaruhi perilaku orang banyak, agar mau bekerjasama dalam mencapai sesuatu tujuan. Kepemimpinan merupakan salah satu pilar penting dalam TQM, karena organisasi tidak ada artinya tanpa kepemimpinan yang memadai. Prinsip-prinsip tersebut antara lain bahwa pimpinan lembaga pendidikan hendaknya memiliki tekad yang kuat untuk terus menerus memperbaiki mutu, memiliki sikap pelayanan dengan cara membantu orang-orang dalam lembaganya

 

Menurut Asmendri dalam Muhammad Kristiawan, Dian Safitri dan Rena Lestari (2017) ada 4 gaya kepemimpian yaitu sebagai berikut.

  • Tipe Otoriter

Merupakan pemimpin yang membuat keputusan sendiri karena kekuasaan terpusatkan dalam diri satu orang, ia memikul tanggung jawab dan wewenang penuh. Gaya kepemimpinan ini berdasarkan pada pendirian bahwa segala aktifitas dalam organisasi akan dapat berjalan lancar dan berhasil mencapai tujuan apabila semuanya diputuskan oleh pemimpin. Biasanya pemimpin ini bertindak sebagai penguasa tunggal dan tidak melibatkan bawahan dalam pengambilan keputusan, dan tidak menghargai pendapat, ide dan inspirasi bawahan.

  • Demokratis

Merupakan pemimpin yang berkonsultasi dengan kelompok mengenai masalah yang menarik perhatian mereka serta mereka dapat menyumbangkan sesuatu. Tipe ini merupakan kebalikan dari tipe pertama. Yaitu pemimpin berusaha melibatkan kelompok dalam pengambilan keputusan, menghargai inisiatif, pendapat dan ide dari anggota, lebih mementingkan kepentingam bersama daripada individual, adanya pendelegasiaan wewenang dan tanggung jawab dan biasanya keputusan diambil atau dilakukan dengan musyawarah.

  • Kendali bebas (laizes faire)

Merupakan pemimpin memberi kekuasaan pada bawahan. Kelompok dapat mengembangkan sasarannya sendiri dan memecahkan masalah sendiri, pengarahan tidak ada atau hanya sedikit. Pada tipe ini, pemimpin seperti tidak melakukan fungsi kepemimpinan dan sifat kepemimpinannya tidak tampak.

  • Tipe Pseudo demokratis

Tipe ini disebut juga tipe demokratis semu. Seorang pemimpin yang mempunyai tipe ini hanya nampaknya saja yang demokratis, padahal sebenarnya tindaknnya bersifat otoriter atau absolut. Hersey dan Blanchard mengatakan bahwa gaya kepemimpinana yang paling efektif adalah kepemimpinana yang disesuaikan dengan tingkat kedewasaan (kematangan atau maturity) bawahan.

Berikut gambaran untuk menterjemahkan Gaya Kepemimpinan:

Sumber : Google.com

 

Facebook Comments

tags: , , , , , , , ,

Related For Gaya Kepemimpinan Seorang Pemimpin