Haluskan Budi Pekerti Anak-anak di Rumah Melalui Sistem Among

126

Tangerang, 30 April 2020 –  ManajemenPendidikan.Net

Artikel ini dibuat oleh Bapak Waridi, S.Pd.,M.M., dari SMPN 2 Banjarnegara, Jawa Tengah, sebagai peserta dalam pelatihan web desain dari ManajemenPendidikan.Net

Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2020 telah tiba. Jika saja keadaan normal, berbagai acara diselenggarakan untuk memperingati Hardiknas tersebut. Aneka lomba peserta didik dan guru diadakan guna mengapresiasi jasa-jasa perjuangan Ki Hajar Dewantara dalam memajukan pendidikan nasional di negeri Indonesia tercinta. Bermacam-macam workshop dan seminar diselenggarakan untuk menyemarakkan hari lahirnya Bapak Pendidikan Indonesia, pencetus sistem among itu. Tetapi, karena situasi pandemik covid-19 melanda negeri Indonesia dan dunia, maka semua kegiatan itu tidak sesuai untuk diselenggarakan. Semua peserta didik harus belajar di rumah. Orang tua, apa pun pekerjaannya harus juga banyak berada di rumah. Dalam kondisi inilah orang tua harus banyak memerankan diri secara penuh sebagai pendidik anak-anak di rumah. 

Saatnya semua orang tua secara penuh mendidik anak-anak di rumah. Jika orang tua sebelum ini menyerahkan tugas mendidik kepada Satuan Pendidikan tempat putra-putri bersekolah, kini hampir semua harus kembali kepada orang tua. Situasi ini sesungguhnya memberikan kesempatan kepada semua orang tua untuk membina budi pekerti anak-anak yang seharian berada di rumah bersamanya. Jika selama ini ada banyak isu terkait budi pekerti peserta didik di sekolah, maka kini saatnya orang tua memanfaatkan keadaan untuk membina budi pekerti anak-anak sekaligus generasi bangsa Indonesia. Maka persoalan sangat penting yang menjadi problematika semua orang tua kini adalah bagaimana cara membina budi pekerti anak-anaknya. Dalam konteks inilah sistem among sebagaimana dicetuskan Ki Hajar Dewantara dapat menjadi alternatif yang sangat bagus untuk diterapkan oleh setiap orang tua yang sekaligus kini menjadi guru bagi anak-anak yang kini berada seharian bersamanya di rumah. Oleh karena itu soal besar yang paling cocok diajukan pada peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2020 ini ialah: Bagaimanakah sistem among diterapkan sebagai pendekatan untuk menghaluskan budi pekerti peserta didik yang kini bersama orang tua di rumah?

Sistem Among 

Sistem Among sebagaimana dicetuskan Ki Hajar Dewantara berasal dari bahasa Jawa yaitu mong atau momong, yang artinya mengasuh anak. Para guru atau dosen juga orang tua tentunya disebut pamong yang bertugas untuk mendidik dan mengajar anak sepanjang waktu dengan cinta kasih dan kasih sayang.  Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya para guru dan orang tua harus mengembangkan sikap Momong, Among, dan Ngemong, terkandung nilai yang sangat mendasar, yaitu pendidikan tidak memaksa namun bukan berarti membiarkan anak berkembang bebas tanpa arah. Metode Among mempunyai pengertian menjaga, membina dan mendidik anak dengan penuh cinta kasih dan kasih sayang. Menjaga dalam hal ini berarti menjauhkan anak dari segala mara bahaya yang datang menghampiri kehidupannya. Membina berarti mengembangkan segala potensi positif anak agar berkembang hingga puncaknya.  Sedangkan mendidik dalam hal ini adalah memanusiakan manusia muda. Pendidikan, baik berlangsung di sekolah maupun di dalam keluarga hendaknya menghasilkan pribadi-pribadi yang lebih manusiawi, berguna dan berpengaruh di masyarakatnya, yang bertanggungjawab atas hidup sendiri dan orang lain, yang berwatak luhur dan berkeahlian. Untuk itulah sebagai pemimpin bagi anak-anaknya,  orang tua kini perlu menerapkan ”Konsep Trilogi Kepemimpinan” sebagaimana dicetuskan Ki Hajar Dewantara yang terdiri dari Ing Ngarsa Sung Taladha, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani. Maksudnya, ketika berada di depan harus mampu menjadi teladan, ketika berada di tengah-tengah harus mampu membangun semangat, dan ketika berada di belakang harus mampu mendorong orang-orang dan pihak-pihak yang dipimpinya.

Di Depan Memberi Teladan

Perilaku anak, dalam ukuran tertentu sebenarnya merupakan cermin perilaku guru, yang kini tengah secara penuh diperankan orang tua,  “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari” merupakan ungkapan yang menggambarkan bahwa apa yang dilakukan guru akan diteladani oleh segenap peserta didiknya. Dalam situasi pandemik covid-19 seperti saat ini, jika orang tua di rumah menginginkan anak-anaknya disiplin, maka orang tua pun harus disiplin terlebih dahulu. Jika orang tua berharap anak-anak  selalu menjaga kebersihan, tidak akan cocok jika orang tua pun masih terlihat membuang sampah sembarangan. Jika seorang orang tua berharap anak-anak berpakaian rapi, maka kurang cocok jika orang tua berpakaian tidak rapi. Jika orang tua berharap anak-anak selalu bersikap ramah dan sopan kepada sesamanya, maka tidak cocok jika ada seorang orang tua selaku guru di rumah senang membentak, menghardik dan merendahkan anak-anak  saat kegiatan di rumah. Inilah yang dimaksud dengan azas Ing Ngarsa Sung Tulada, yang berarti saat di depan memberi contoh.

Di Tengah Membangun Kemauan

Kadang-kadang dijumpai anak-anak kurang bersemangat dalam belajar. Saat itulah orang tua sebagai guru datang untuk membangun kemauan. Banyak alat pendidikan dapat digunakan untuk membangun kemauan. Dari aspeknya yang negatif, alat pendidikan itu misalnya: celaan, kemarahan dan hukuman.  Alat pendidikan bercorak negatif dan kasar tersebut tak perlu digunakan, sebab alat pendidikan yang negatif tersebut berdampak negatif pula. Jika anak-anak berperilaku kasar terdapat kemungkinan bahwa di rumah anak-anak mempunyai  orang tua dengan kebiasaan menggunakan alat pendidikan yang negatif itu. Celaan menghasilkan celaan, kemarahan menghasilkan kemarahan, dan hukuman menghasilkan dendam. Agar kemauan anak-anak terus bertumbuh secara positif, maka orang tua perlu untuk selalu menggunakan alat pendidikan yang selalu positif, misalnya: pujian tulus, hadiah kecil, tepuk tangan, ucapan selamat, ucapan terima kasih, pernyataan setuju dan lain-lain. Penggunaan penghargaan-penghargaan sederhana sebagai bagian dari alat pendidikan inilah yang diharapkan dapat membangkitkan semangat maju maupun semangat berkreasi tanpa rasa takut akan disalahkan. Inilah yang dimaksud Ki Hajar Dewantara sebagai Ing Madya Mangun Karsa, yang berarti di tengah membangun kemauan.

Di Belakang Memberi Kekuatan

Untuk mendorong segenap anak-anak terus maju mencapai puncak sejauh bisa dicapai anak-anak dalam kemanusiaannya, orang tua dapat memerankan dirinya sebagai “supporter sepak bola”, dan “sebagai penggembala itik” serta “sebagai pelatih silat”.  Dalam hal berperan sebagai supporter sepak bola,  orang tua sebagai guru terus memberi semangat dari kejauhan, anak tetap berjuang sendiri, bermain sendiri, menggiring sendiri bola permainannya, menatap sendiri tujuan dan cita-citanya, hingga tercapainya goal, hingga tercapainya cita-cita. Ketika goal tercapai, tujuan tercapai, anak-anak berselebrasi, orang tua selaku guru dari kejauhan cukup melambaikan tangan tanda membenarkan. 

Dalam hal berperan sebagai penggembala itik, orang tua mengarahkan anak untuk senantiasa berada pada situasi yang menguntugkan dirinya, yaitu situasi jalan kebenaran. Penggembala itik memiliki cemeti panjang yang berbendera sebagai ciri khasnya tetapi bukan untuk dipukulkan ke itik yang digembalakannya, dalam hal ini orang tua  memiliki seruan, tetapi bukan untuk mencaci maki anak-anaknya, melainkan hanya untuk memastikan bahwa perjalanan anak-anaknya berada pada jalan kebenaran. 

Dalam hal sebagai pelatih silat, orang tua melatih anak berbagai jurus untuk menaklukkan musuh, tetapi pada saat anak bertarung di arena permainan menghadapi lawan, orang tua berada di luar, anak sendiri yang menentukan jurus apa yang harus diterapkan untuk memenangkan pertandingan, memenangkan kehidupan. Orang tua sebagai guru benar-benar dari belakang, bahkan dari kejauhan, orang tua merupakan salah satu  pemberi kekuatan perjuangan untuk tercapainya kegemilangan. Posisi orang tua seperti ini menjadi sangat terhormat di mata anak-anaknya, maka tak ada kesempatan bagi segenap anak-anak  untuk sembrono baik terhadap ayah maupun ibunya, dimanapun anak-anak berada akan selalu menjunjung nama baik orangtuanya. Budi pekerti yang halus pada diri anak bertumbuh seiring dengan situasi keluarga yang semakin serba ramah, semakin harmoni, semakin menunjang kemajuan serta kejayaan Indonesia negeri tercinta. Inilah yang oleh Ki Hajar Dewantara disebut sebagai Tut Wuri Handayani, yang berarti di belakang memberi kekuatan.

Kesimpulan

Penerapan Sistem Among dalam pendidikan keluarga pada situasi pandemik covid-19 dapat melahirkan anak-anak berbudi pekerti halus dan jauh dari perilaku kasar apabila orang tua sungguh-sungguh dapat menggerakkan dirinya untuk membangun kondisi keseluruhan pendidikan di rumah dalam  kerangka orang tua adalah teladan,  orang tua adalah pembangun kemauan, dan orang tua adalah motivator tangguh dari belakang. Jika semua kondisi itu terbangun dalam keikhlasan orang tua sebagai pamomong yang sabar dan penuh welas asih, maka akan selalu lahirlah dari setiap keluarga di Indonesia putra-putri genarsi bangsa yang halus dalam budi pekerti.  Oleh karena itu, kini saatnya kita bukan hanya tiap tahun menggemakan Hari Pendidikan Nasional dengan berbagai gempita kegiatan perlombaan, tetapi menerapkan Sistem Among sebagai pendekatan yang menjelujuri keseluruhan pendidikan  di rumah, pendidikan dalam keluarga. Hal ini akan lebih merupakan bentuk penghormatan kepada Ki Hajar Dewantara dengan cara yang lebih tinggi. Semoga demikian andanya. (*) 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Chat dengan Kami