Lembaga Pendidikan dan Pembangunan Bangsa

Selasa, Januari 9th 2018. | Artikel, Desain Pembelajaran

Sumber Gambar : https://www.eurekapendidikan.com

 

PENTINGNYA LEMBAGA PENDIDIKAN

SEBAGAI SEBUAH SISTEM DALAM PROSES PEMBANGUNAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN DI INDONESIA

DALAM RANGKA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA

(FENOMENA DI STKIP NIAS SELATAN DAN STIE NIAS SELATAN)

Martiman Su’aizisiwa Sarumaha*

Bab I

Pendahuluan

 

  1. Latarbelakang

Pendidikan bermutu dalam pembangunan sebuah bangsa adalah suatu keniscayaan, dimana melalui pendidikan bermutu dapat dilahirkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas dan berdaya saing sebagai salah satu row input atau masukan dalam proses pembangunan. Tanpa pendidikan yang bermutu tidak mungkin tujuan pembangunan sebuah bangsa dapat terwujud dengan baik. Pendidikan bermutu dan pembangunan berkualitas bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dalam konteks bangsa Indonesia, landasan yuridis Undang-Undang Dasar 1945 alinea ke empat menyatakan bahwa “….kemudian dari pada itu, untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia, yang melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia serta untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa…”. Merujuk kepada petikan pembukaan UUD 1945 tersebut, jelas bahwa salah satu tujuan pembangunan nasional adalah dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Strategi operasional untuk mencapai tujuan tersebut adalah melalui upaya pembangunan manusia pada sektor pendidikan. Perguruan Tinggi yang ada di Nias Selatan adalah Perguruan Tinggi yang didirikan Yayasan Pendidikan Nias Selatan, yaitu Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Nias Selatan dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Nias Selatan sebagai salah satu dan satu-satunya Perguruan Tinggi pertama di Kabupaten Nias Selatan dan Perguruan Tinggi Kedua yang ada di kepulauan Nias. Pada saat Nias masih dalam satu kabupaten, keberadaan Perguruan Tinggi di Nias Selatan adalah merupakan kampus II dari IKIP Gunung Sitoli yang berlokasi di Kecamatan Teluk Dalam yang berdiri pada tahun 2002 hingga akhirnya pada tahun 2008 oleh Menteri Pendidikan melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi memberi ijin operasional tersendiri. Maka, terbentuk dan berdirilah Perguruan Tinggi di Nias Selatan yang memiliki otonomi.

STKIP Nias Selatan sebelumnya adalah IKIP Gunung Sitoli Kampus II di Teluk Dalam dan STIE Nias Selatan adalah Perguruan Tinggi dari STIE Pembnas Nias Kampus II di Teluk Dalam. Pada akhirnya, oleh yayasan penyantun Perguruan Tinggi yang ada di Teluk Dalam berinisiatif untuk mengurus ijin operasional karena bersamaan dengan pemekaran Kabupaten Nias menjadi dua Kabupaten, yaitu Kabupaten Nias Selatan. Dengan perjuangan berat dan sistem yang dilalui begitu panjang, oleh Menteri Pendidikan melalui Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) mengeluarkan ijin operasional sebagai bentuk kemandirian Perguruan Tinggi yang ada di Teluk Dalam dengan nama STKIP Nias Selatan dan STIE Nias Selatan. SK Ijin Operasional yang dikeluarkan oleh Dirjen Dikti dengan Nomor 156/D/O/2008 untuk STKIP Nias Selatan dan Nomor 157/D/O/2008 untuk STIE Nias Selatan, diharapkan pentingnya lembaga pendidikan sebagai sebuah sistem dalam proses pembangunan dan pengembangan pendidikan di Indonesia secara umum dan terkhusus di kepulauan Nias dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Apa yang diharapkan dalam proses pembangunan dan pengembangan pendidikan tersebut terkhusus di Kabupaten Nias Selatan merupakan sebuah perubahan paradigma sebagai harapan bahwa manusia Nias akan berubah ke arah yang lebih baik (mindset). Yvonna S. Lincoln mengungkapkan bahwa:

It is this pervasive, engaged quality that focuses more completely the meaning of paradigm. A paradigm is much more than a model or pattern; it is a view of the world – a Weltanschauung – that reflects our most basic beliefs and assumptions about the human condition, hether or nit there is any such thing as “sin”, what is real, what is true, what is beautiful, and what is the nature of things[1]”.

Artinya kualitas yang lebih terfokus pada makna paradigma, bahwa paradigma jauh lebih dari model atau pola, yang merupakan pandangan dunia – a Weltanschauung – yang mencerminkan keyakinan kita yang paling dasar dan asumsi tentang kondisi manusia, atau tidak ada hal seperti “dosa”, apa yang nyata, apa yang benar, apa yang indah dan apa hakikat segala sesuatunya. Dengan harapan lembaga pendidikan yang ada di Kabupaten Nias Selatan mampu membentuk suatu pola pemikiran yang positip untuk menjadi sebagai warga negara dan masyarakat yang sehat, cerdas dan mandiri.

Menurut Tilaar (2009:299) mengatakan bahwa “dalam menemukan dan mengarahkan pengembangan pendidikan nasional perlu kita mempunyai suatu visi yang jelas mengenai kearah mana masyarakat Indonesia akan dibangun” [2]. Dengan demikian, pendidikan merupakan pilar strategis yang tidak bisa tergantikan oleh sektor manapun dan sudah menjadi komitmen nasional sejak Negara ini berdiri, sehingga isu pendidikan memiliki kedudukan yang strategis untuk selalu dikaji dan dikembangkan. Berdirinya Perguruan Tinggi yang ada di Nias Selatan dilakukan berbagai upaya dalam pengelolaan dan pengembangannya dengan memiliki sistem yang terintegrasi dengan perkembangan pembangunan di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, informasi dan teknologi. Artinya bahwa organisasi sebagai sistem yang menciptakan dan menjaga lingkungan didalamnya memuat interaksi manusia yang sangat kompleks baik antar individu maupun dalam kelompok. Organisasi dengan open system dapat digambarkan seperti fenomena nyala api lilin, sinar yang dipancarkannya akan memengaruhi kondisi lingkungan di sekelilingnya. Dalam sistem yang terbuka, organisasi dengan sistem yang lebih luas orang akan berinteraksi aktif dengan sistem eksternal yang terdapat pada lingkungannya.

 

  1. Fokus Permasalahan

Sebagaimana latar belakang di atas, maka yang menjadi fokus permasalahan dalam analisis kasus pada makalah ini adalah “Seberapa Pentingnya Lembaga Pendidikan Sebagai Sebuah Sistem Dalam Proses Pembangunan dan Pengembangan Pendidikan di Indonesia Dalam Rangka Mencerdaskan Kehidupan Bangsa: Fenomena di STKIP Nias Selatan dan STIE Nias Selatan”

 

  1. Tujuan

Berdasarkan uraian latar belakang dan fokus permasalahan di atas, maka yang menjadi tujuan dalam penulisan makalah ini adalah:

  1. Untuk menjelaskan Arah dan Strategi Umum Pengembangan Pendidikan bagi Daerah terkhusus di pulau Nias yang ada di bagian Selatan.
  2. Untuk menjelaskan pentingnya lembaga pendidikan, terutama di daerah yang selama ini dikatakan terisolir.
  3. Untuk menjelaskan manajemen sistem dalam proses pembangunan dan pengembangan pendidikan di Indonesia terkhusus di STKIP Nias Selatan dan STIE Nias Selatan.
  4. Untuk mengkaji dan menganalisis berpikir sistem dalam pengelolaan Perguruan Tinggi yang ada di Nias Selatan, yaitu STKIP Nias Selatan dan STIE Nias Selatan sebagai Perguruan Tinggi yang masih tergolong berusia muda.

 

 

 

Bab II

Pembahasan

 

  1. Profil STKIP Nias Selatan dan STIE Nias Selatan

Dua lembaga Pendidikan Tinggi di bawah naungan Yayasan Pendidikan Nias Selatan, yaitu Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Nias Selatan dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Nias Selatan. Masing-masing dipimpin oleh Ketua, dan di bantu oleh tiga orang Pembantu Ketua masing-masing terdiri Pembantu Bidang Akademik, Bidang Administrasi dan Bidang Kemahasiswaan. Program Studi yang ada di STKIP Nias Selatan terdiri dari tujuh Program Studi (Prodi), yaitu Prodi Pendidikan Matematika, Prodi Pendidikan Biologi, Prodi Pendidikan Ekonomi, Prodi Pendidikan PKn, Prodi Pendidikan Bahasa Inggeris, Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, dan Bimbingan Konseling. Semua program studi yang ada di STKIP Nias Selatan jenjang strata satu (S-1). Sementara di STIE Nias Selatan terdiri dari dua prodi, yaitu Prodi Manajemen (S-1) dan Prodi Akuntasi (D-3).

  1. Unsur Organisasi STKIP Nias Selatan dan STIE Nias Selatan
  2. Penasihat : Dewan Penyantun yaitu Yayasan Pendidikan Nias Selatan
  3. Pimpinan : Ketua

Ketua dibantu oleh Pembantu Ketua, yang terdiri dari:

1) Pembantu Ketua I         : Bidang Akademik

2) Pembantu Ketua II        : Bidang Keuangan

3) Pembantu Ketua III       : Bidang Kemahasiswaan

  1. Pelaksana Akademik:

1) Program Studi,

2) Lembaga Penelitian dan Pengembangan (Litbang)

3) Lembaga penjamin mutu pendidikan (LPMP),

4) Lembaga pengabdian masyarakat (LPM)

 

  1. Penunjang Akademik:

1) Perpustakaan

2) Laboratorium Biologi.

  1. Pelaksana Administrasi:

1) Biro Administrasi Umum (BAU)

2) Biro Administrasi Akademik Kemahasiswaan (BAAK)

  1. Unsur non struktural:

1) Organisasi kemahasiswaan (Ormawa)

2) Organisasi alumni STKIP Nias Selatan dan STIE Nias Selatan

  1. Unsur Penyelengara Pendidikan dan Pengajaran di STKIP Nias Selatan  dan STIE Nias Selatan
  2. Status Dosen STKIP Nias Selatan dan STIE Nias Selatan
  • Dosen STKIP Nias Selatan dan STIE Nias Selatan adalah tenaga kependidikan yang diangkat oleh Yayasan Pendidikan Nias Selatan berdasarkan bidang keahlian dan ketrampilannya yang ditetapkan melalui Surat Keputusan.
  • Dosen sebagaimana dimaksud pada point 1, mengemban tugas dan tanggungjawab berdasarkan bidang keahlian dan ketrampilannya, dan ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Ketua.
  • Dosen yang dimaksdu yaitu Dosen Tetap Yayasan (DTY), Dosen Tidak Tetap (DTT), dan Dosen Tamu.
  • Dosen Tetap Yayasan yaitu dosen yang diangkat oleh Yayasan Pendidikan Nias Selatan, masing-masing sebagai Dosen Tetap Yayasan dan ditugaskan di STKIP Nias Selatan dan STIE Nias Selatan.
  • Dosen Tidak Tetap yaitu dosen yang diangkat oleh Yayasan Pendidikan Nias Selatan, masing-masing sebagai Dosen Tidak Tetap dan ditugaskan di STKIP Nias Selatan dan di STIE Nias Selatan.
  • Dosen tamu yaitu dosen yang diangkat oleh Yayasan Pendidikan Nias Selatan sebagai Dosen Tamu dan masing-masing ditugaskan di STKIP Nias Selatan dan di STIE Nias Selatan selama jangka waktu tertentu.
  • Dosen berdasarkan jenjang pendidikan yaitu dosen yang diangkat oleh Yayasan Pendidikan Nias Selatan menjadi Dosen (DTY/DTT/Dosen Tamu), dan ditugaskan di STKIP Nias Selatan maupun di STIE Nias Selatan berdasarkan jenjang pendidikan yang dimiliki berikut ini:
    1. Dosen berjenjang pendidikan Doktor (S-3)
    2. Dosen berjenjang pendidikan Magister (S-2)
    3. Dosen berjenjang pendidikan Sarjana (S-1)
  • Dosen berdasarkan jabatan akademik yaitu dosen yang diangkat oleh Yayasan Pendidikan Nias Selatan menjadi Dosen (DTY/DTT/Dosen Tamu), dan ditugaskan di STKIP Nias Selatan mapun di STIE Nias Selatan yang telah memiliki jabatan akademik berikut ini:
    1. Dosen dengan jabatan akademik Guru Besar (Profesor)
    2. Dosen dengan jabatan akademik Lektor Kepala
    3. Dosen dengan jabatan akademik Lektor
    4. Dosen dengan jabatan akademik Asisten Ahli
  • Dosen STKIP Nias Selatan dan STIE Nias Selatan mengemban tugas dan bertanggungjawab dalam menyelenggarakan kegiatan perkuliahan (mengajar, mendidik, melatih, membimbing mahasiswa pada matakuliah tertentu).
  1. Tugas dan Tanggungjawab Dosen STKIP Nias Selatan dan STIE Nias Selatan, antara lain:
  2. Tugas dan tanggungjawab dosen adalah jumlah jam pekerjaan yang dilakukan oleh dosen STKIP Nias Selatan dan STIE Nias Selatan.
  3. Bertanggungjawab dalam menyelenggarakan kegiatan perkuliahan pada matakuliah yang menjadi beban tugasnya.
  4. Mengemban tugas dan tanggungjawab sebagai Dosen Penasihat Akademik Mahasiswa/i pada program studi tertentu.
  5. Mengemban tugas dan tanggungjawab sebagai Dosen Pembimbing Skripsi mahasiswa/i pada program studi tertentu.
  6. Mengemban tugas dan tanggungjawab sebagai Dosen Pembimbing Lapangan mahasiswa/i pada kegiatan praktikum.
  7. Meningkatkan kemampuan, keahlian, dan ketrampilan dalam bidang pendidikan.
  8. Meningkatkan kemampuan dalam melaksanakan penelitian baik dalam bidang pendidikan, maupun non kependidikan.
  9. Meningkatkan kemampuan dalam melaksanakan pengabdian kepada masyarakat.
  10. Dapat mengemban tugas dan tanggungjawab dalam memangku jabatan secara mandiri sesuai dengan kewenangan yang diberikan.
  11. Dapat mengemban tugas dan tanggungjawab dalam membina dosen dalam team teaching dan teman sejawat.
  12. Beban tugas wajib (tugas mengajar) Dosen Tetap Yayasan (DTY) adalah 6 SKS.
  13. Selain beban tugas yang dimaksud pada point k, DTY dapat mengemban beban tugas dan tanggungjawab tambahan.
  14. Beban tugas mengajar DTT dan tambahan jam mengajar DTY ditentukan oleh Ketua Program Studi.
  15. Beban tugas mengajar dosen STKIP Nias Selatan dan STIE Nias Selatan, maksimal ekuivalen waktu mengajar efektif yaitu: 38 jam mengajar.
  16. Beban tugas yang dimaksud mulai dari point a, b, c, d, h, j, k, dan l,m ditetapkan oleh Ketua, baik Ketua STKIP Nias Selatan maupun Ketua STIE Nias Selatan atas usul Ketua Program Studi.
  17. Beban tugas sebagaimana dimaksud pada point e, f, dan g adalah tanggungjawab dosen bersangkutan, dan atau Ketua STKIP dan STIE Nias Selatan, dan atau Yayasan Pendidikan Nias Selatan.
  18. Beban tugas sebagaimana dimaksud pada point i ekuivalen waktu mengajar penuh, dan sepenuhnya ditetapkan masing-msing oleh Ketua STKIP Nias Selatan dan Ketua STIE Nias Selatan.

Berdasarkan unsur organisasi STKIP Nias Selatan dan STIE Nias Selatan serta unsur  penyelengara pendidikan dan pengajaran di STKIP Nias Selatan  dan STIE Nias Selatan di atas jelas bahwa lembaga pendidikan tinggi ini senantiasa membenahi diri dengan mendatangkan tenaga ahli atau konsultan dan juga mendatangkan dosen terbang untuk menambah pengetahuan peserta didiknya atau mahasiswa. Disamping itu, kepada dosen dan stafpun diberikan kesempatan pengembangan pendidikan melalui pelatihan atau workshop sehingga informasi dan pengembangan pengetahuan dosen serta staf di lingkungan STKIP Nias Selatan dan STIE Nias Selatan senantiasa dapat mengikuti perkembangan pendidikan secara up to date. Bahkan beberapa dosen melanjutkan pendidikan di jenjang magister dan doktoral.

 

 

 

  1. Arah dan Strategi Umum Pengembangan Pendidikan

Pendidikan sebagai suatu sistem dapat ditinjau dari dua hal: (1) sistem pendidikan secara mikro; (2) sistem pendidikan secara makro. Pendidikan secara mikro lebih menekankan pada unsur pendidik dan peserta didik. Polanya lebih merupakan sebagai proses interaksi antara mahasiswa, dosen, staf dan biro-biro yang ada di lingkungan perguruan tinggi sebagai  upaya mencerdaskan peserta didik melalui proses interaksi dan komunikasi, yaitu ada pesan (message) yang akan disampaikan dalam bentuk bahan belajar (module). Kemudian fungsi pendidik lebih merupakan sebagai pengirim pesan (senders) melalui kegiatan pembelajaran di kelas ataupun di luar kelas.

Sistem pendidikan secara makro, merupakan sistem pendidikan menyangkut berbagai hal atau komponen yang lebih luas lagi, yaitu terdiri dari : 1) Masukan (input) berupa sistem nilai dan pengetahuan, sumber daya manusia, masukan instrumental berupa kurikulum, silabus dan sebagainya, masukan sarana termasuk di dalamnya fasilitas dan sarana pendidikan yang harus disiapkan; 2) Proses (process) yaitu segala sesuatu yang berkaitan dengan proses belajar mengajar atau proses pembelajaran di sekolah maupun di luar sekolah. Dalam komponen proses ini termasuk di dalamnya telaah kegiatan belajar dengan segala dinamika dan unsur yang mepengaruhinya, serta telaah kegiatan pembelajaran yang dilakukan pendidik dalam kerangka memberikan kemudahan kepada peserta didik untuk terjadinya proses pembelajaran; 3) Keluaran (output) yaitu hasil yang diperoleh pendidikan bukan hanya terbentuknya pribadi lulusan atau peserta didik yang memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan sesuai dengan yang diharapkan dalam tujuan yang ingin dicapai. 4) Hasil (outcome), yaitu keluaran pendidikan mencakup segala hal yang dihasilkan oleh garapan pendidikan berupa kemampuan peserta didik (human behavior), produk jasa (services) dalam pendidikan seperti hasil penelitian, produk barang berupa karya intelektul (intellectual) dan karya yang sifatnya fisik material (technology) serta kebermanfaatan hasil pendidikan itu sendiri baik dalam diri peserta didik tersebut, di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.

Pemerintah pusat memberikan arahan tentang strategi umum pengembangan pendidikan sebagai berikut:

  1. Kegiatan pendidikan sebagai investasi jangka panjang hendaknya ditekankan pada pemberdayaan dan peningkatan produktivitas penduduk dalam konteks perwujudan kesejahteraan umum yang meliputi tiga indikator utama, yaitu kecukupan ekonomi, ketersediaan layanan dan akses kesehatan, serta pendidikan yang berkualitas.
  2. Pada tahap awal, upaya ini dititikberatkan pada pendidikan kejuruan dan tranformasi teknologi dari Negara maju, diikuti dengan terciptanya sumber daya insani yang berketerampilan tinggi dan menguasai teknologi informasi dan komunikasi (TIK), dan dilanjutkan dengan pendidikan yang diarahkan pada pengembangan pengetahuan (knowladge), teknologi dan informasi bagi tercapainya kesejahteraan masyarakat (social welfare).
  3. Pengembangan sumber daya insani yang berkualitas perlu ditopang oleh sistem pendidikan tinggi yang unggul (Total Quality Management).
  4. Upaya pengembangan pendidikan perlu dilakukan secara sinergis dengan memberikan otonomi tanggung jawab, dan peran yang lebih luas kepada swasta, lembaga sosial kemasyarakatan dalam membangun pendidikan yang bermutu (stakeholders).
  5. Pendidikan dasar yang pada saat ini didefinisikan dengan pendidkan sembilan tahun hendaknya menjadi penopang pokok upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, sehingga pendidikan dengan mutu yang baik dapat diperoleh oleh setiap warga negara Indonesia. Selain itu anggaran pendidikan dari pemerintah yang 20% alokasinya hendak tepat pada sasaran, sehingga pemberdayaan pendidikan tercapai sebagaimana amanat dalam undang-undang.

Berdasarkan arah dan strategi dari pengembangan pendidikan di atas demikian pula arah dan strategi yang diadobsi di lingkungan STKIP Nias Selatan dan STIE Nias Selatan. Hal ini sejalan dengan arah tentang strategi umum pengembangan pendidikan tersebut sesuai UU Sisdiknas sebagaimana telah digariskan bahwa pemerintah pusat dan pemerintah daerah menjamin bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran dan pendidikan yang layak.

 

 

  1. Pentingnya Lembaga Pendidikan

Motivasi berdirinya lembaga pendidikan yang didirikan oleh Yayasan Pendidikan Nias Selatan adalah melalui studi empiris sehingga menjadi motto dalam merubah paradigma dan yang selalu diungkapkan ketua yayasan oleh bapak Bambowo Laiya, MA bahwa dikatakan “Nias miskin karena bodoh, Nias bodoh karena miskin”. Hal ini sebagai mata rantai yang tidak pernah putus dan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat Nias. Maka, hanya melalui pendidikanlah hal ini dapat diputus sehingga rantai kemiskinan dan kebodohan itu bisa diakhiri, artinya pendidikan merupakan satu-satunya kunci keberhasilan suatu masyarakat sebagai suatu bangsa dalam mencapai peradabannya.

Pentingnya lembaga pendidikan adalah sebagai sistem yang sengaja dibentuk oleh masyarakat dalam membentuk pola berpikir masyarakatnya dari berpikir primitif ke arah berpikir modern dan dari berpikir kuno ke arah berpikir maju. Pendidikan dianggap penting karena ingin memanusiakan manusia sesuai dengan teori pendidikan. Pendidikan secara umum mempunyai arti sebagai proses kehidupan dalam mengembangkan diri tiap individu untuk dapat hidup dan melangsungkan kehidupan. Pentingnya pendidikan sangat terlihat jelas. Melamar pekerjaan yang layak tentu membutuhkan ijazah sesuai dengan jabatan yang akan dilamar. Jabatan yang tinggi tentunya membutuhkan orang yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi juga yang dibuktikan dengan ijazah yang dimiliki. Hal ini yang mendorong berdirinya lembaga pendidikan tinggi di Nias Selatan, apalagi di era globalisasi yang penuh persaingan dan tidak sedikit orang yang menghalalkan segala cara dalam berkompetisi.

Proses pendidikan merupakan kegiatan mobilitas segenap komponen pendidikan oleh pendidik terarah kepada pencapaian tujuan pendidikan. Kualitas proses pendidikan menggejala pada dua segi, yaitu kualitas komponen dan kualitas pengelolaannya. Pengelolaan proses pendidikan meliputi ruang lingkup makro, meso, mikro. Adapun tujuan utama pengelolaan proses pendidikan yaitu terjadinya proses belajar dan pengalaman belajar yang optimal. Menurut Frederick J Mc.Donald dan M.J Langeveld, pendidikan adalah suatu proses atau kegiatan yang diarahkan untuk mengubah kebiasaan (behavior) manusia. Sedangkan menurut John Dewey bahwa pendidikan merupakan salah satu proses pembaharuan makna pengalaman[3]. Jadi, betapa pentingnya pendidikan dalam kehidupan manusia, yaitu untuk merobah paradigma masyarakat dari yang tidak bermakna menjadi mampu memahami bahwa ilmu dan pengetahuan itu bermakna untuk kelangsungan hidup manusia itu sendiri.

 

 

 

  1. Manajemen Sistem dalam Proses Pembangunan dan Pengembangan Sistem Pendidikan di STKIP Nias Selatan dan STIE Nias Selatan

Manajemen adalah cara untuk mencapai sesuatu tujuan melalui orang lain. sedangkan sistem adalah dua atau lebih elemen atau beberapa subsistem yang saling berkaitan dan ketergantungan sehingga apabila salah satu subsistem tidak berfungsi, maka subsistem yang lainpun akan terpengaruh dan akhirnya menggangu jalannya sistem tersebut. Jadi, manajemen sistem yang secara umum artinya pengendalian dan pemanfaatan semua faktor dan sumber daya yang diperlukan untuk mencapai atau menyelesaikan suatu keadaan yang sebenarnya untuk tujuan-tujuan tertentu. Dalam menjalankan manajemen sistem tersebut diperlukan berpikir sistem sebagai salah satu pendekatan agar manusia dapat memandang persoalan-persoalan dunia ini dengan lebih menyeluruh dan dengan demikian pengambilan keputusan dan pilihan aksi dapat dibuat lebih terarah kepada sumber-sumber persoalan yang akan mengubah sistem secara efektif.

  1. Apa itu Manajemen Sistem

Ditilik dari asal katanya bahwa manajemen berasal dari bahasa Inggris, yaitu manage artinya mengelola, mengorganisir. Sedangkan di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dikatakan bahwa manajemen adalah penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran[4]. Selain itu, Sutjipto (2004) mengatakan bahwa manajemen sebagai ilmu yang berfungsi memberi sumbangan pada pemecahan masalah-masalah pada pendidikan[5].

Jadi, manajemen sebagai proses kegiatan dengan melalui orang lain untuk mencapai suatu tujuan tertentu serta dilaksanakan secara berurutan sebagai suatu sistem yang berjalan kearah satu tujuan. Sistem yang saling terintegrasi tersebut menggunakan fungsi manajemen berupa planning, organizing, Leading, dan controlling[6] yang diyakini mampu menjawab sistem manajemen dalam proses pembangunan dan pengembangan sistem pendidikan. Dalam pengelolaan sebuah organisasi akan membutuhkan sebuah sistem. Karena di dalam sistem tersebut akan terbangun apa yang menjadi tujuan dari organisasi. STKIP Nias Selatan dan STIE Nias Selatan serta badan penyantun lembaga tersebut, yaitu Yayasan Pendidikan Nias Selatan menggunakan fungsi manajemen yang berada dalam sistem sebagai proses informasi terhadap pimpinan dalam membangun dan mengembangkan pengelolaan perguruan tinggi. Fungsi tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. Planning

Perencanaan tidak lain merupakan kegiatan untuk menetapkan tujuan yang akan dicapai beserta cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut. Sebagaimana disampaikan oleh Louise E. Boone dan David L. Kurtz (1984) bahwa “planning may be defined as the proses by which manager set objective, asses the future, and develop course of action designed to accomplish these objective[7]. Pembuatan keputusan banyak terlibat dalam sistem ini. Proses perencanaan disini untuk menentukan bagaimana sistem manajemen akan mencapai tujuan-tujuan dan menentukan bagaimana organisasi dapat meraih apa yang ingin dicapainya.

  1. Organizing

Istilah pengorganisasian mempunyai bermacam-macam pengertain, istilah tersebut dapat digunakan untuk menunjukkan hal-hal berikut ini:

  • Cara manajemen merancang struktur formal untuk penggunaan yang paling efektif sumber daya keuangan, fisik, bahan baku, dan tenaga kerja organisasi.
  • Hubungan-hubungan antara fungsi, jabatan, tugas dan para karyawan atau dosen serta implementasi hubungan tersebut kepada mahasiswa.
  • Cara para manager lebih lanjut tugas-tugas yang harus dilaksanakan dalam departemen mereka dan mendelagasikan wewenang yang diperlukan untuk mengerjakan tugas tersebut.

Dari tiga hal pengorganisasian di atas dapat disimpulkan bahwa pengorganisasian merupakan suatu proses yang sistemik untuk merancang struktur formal, mengelompokkan dan mengatur serta membagi tugas-tugas atau pekerjaan diantara organisasi agar tujuan organisasi dapat dicapai dengan efisien.

  1. Leading

Memimpin adalah kemampuan mengepalai orang-orang dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara bersama-sama dengan penuh semangat. Pemimpin dalam organisasi sekolah atau pendidikan tinggi adalah mendorong guru dan personal sekolah lainnya melaksanakan tugas dengan antusias dan kemauan yang baik untuk mencapai tujuan dengan penuh semangat. Pemimpin yang efektif cenderung mempunyai hubungan dengan bawahan yang sifatnya mendukung (suportif) dan meningkatkan rasa percaya diri menggunakan kelompok membuat keputusan (ability).

  1. Controling

Fungsi pengawasan atau pengendalian tersebut adalah sebagai salah satu kekuatan untuk mengadakan perbaikan bila hasil atau jasa yang sudah distandarisasi tidak sesuai dengan hasil yang diharapkan. Standarisiasi merupakan salah satu tindakan awal dari proses perencanaan dan standar itu harus terandalkan dan dapat dipercayai sebagai dasar untuk mengevaluasi dan membandingkan dalam kegiatan pengawasan. George R. Terry mengatakan
pengawasan adalah untuk menentukan apa yang telah dicapai,
mengadakan evaluasi, dan mengambil tindakan-tindakan
korektif, bila diperlukan untuk menjamin agar hasilnya sesuai dengan
rencana. Sedangkan, Newman mengatakan bahwa pengawasan adalah suatu usaha untuk menjamin agar pelaksanaan sesuai
dengan rencana. Jadi pengawasan dilakukan sebagai bagian yang tersistem dalam proses informasi yang didapatkan oleh seorang pemimpin dalam pengambilan keputusan.

Pendidikan sebagai Pusat Syaraf

dalam Sistem Pembangunan dan Pengembangan Pendidikan

 

 

  • Planning advantages of IT – better and more timely access to useful information, involving more people in the planning process.
  • Organizing advantages of IT – more ongoing and informed communication among all parts, improving coordination and integration.
  • Leading advantages of IT – more frequent and better communication with staff and diverse stakeholders, keeping objectives clear.
  • Controlling advantages of IT – more immediate measures of performance results, allowing real time solutions to problems.

 

Kesemua bentuk dari manajemen sistem tersebut di atas STKIP Nias Selatan dan STIE Nias Selatan terus berbenah dalam mencapai perubahan paradigma dengan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi. Seiring dengan manajemen sistem yang diadobsi oleh perguruan tinggi yang ada di Nias Selatan, sebagaimana oleh Frank mengatakan bahwa:

As a system, a school is moderately open. The primary types of energy are financial and intellectual. The school is not a natural system; it operates under a series of sometimes conflicting legal mandates rather than a social mandate that represents a consensus of the participants. Consequently, substantial amounts of systems energy are consumed in maintaining relationships rather than achieving goals[8]”.

 

Perguruan tinggi yang ada di Kabupaten Nias Selatan memiliki struktur organisasi sebagai sistem yang memiliki pola struktur pada umumnya. Struktur tersebut dapat digambarkan sebagaimana bagan di bawah ini.

 

 

Struktur Organisasi di Lingkungan STKIP Nias Selatan dan STIE Nias Selatan dengan terintegrasi Manajemen Sistem

 

  1. Proses Pembangunan dan Pengembangan Sistem Pendidikan di STKIP Nias Selatan dan STIE Nias Selatan

Proses pembangunan dan pengembangan pendidikan di Kabupaten Nias Selatan mengadobsi dan mempedomani sistem pendidikan yang berlaku di perguruan tinggi swasta yang ada di Indonesia, dan terkhusus dengan berkoordinasi pada perguruan tinggi swasta yang ada di wilayah Nanggru Aceh Darussalam – Sumut di bawah Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah I NAD – Sumut. Proses pembangunan dan pengembangan sistem pendidikan tersebut dengan terakreditasinya semua program studi yang ada baik di STKIP Nias Selatan maupun di STIE Nias Selatan. Untuk lebih jelasnya proses Pembangunan dan Pengembangan Sistem Pendidikan di Lingkungan Perguruan Tinggi yang ada di Kabupaten Nias Selatan sebagaimana tabel di bawah ini.

 

Tabel Pembangunan dan Pengembangan Sistem Pendidikan di Lingkungan

STKIP Nias Selatan dan STIE Nias Selatan, Periode 2013

 

Pembangunan dan

Pengembangan

STKIP Nias Selatan STIE Nias Selatan
Program Studi 1.    Pendidikan Ekonomi

2.    Pendidkan Pancasila dan Kewargaan Negara

3.    Pendidikan Matematika

4.    Pendidikan Biologi

5.    Pendidikan Bahasa Inggris

6.    Pendidikan Bahasa Indonesia

7.    Bimbingan dan Konseling

 

1.    Manajemen

2.    Akuntansi

Jenjang Pendidikan Semua prodi Strata 1 Akuntansi Diploma III;

Manajemen Strata 1

Ruang Kelas/Perkuliahan 25 ruang belajar 15 ruang belajar
Ruang Pimpinan 4 ruang Ketua bersama Pembantu ketua 4 ruang Ketua bersama Pembantu ketua
Ruang Biro 1 ruang Balitbang

1 ruang Unit Penjaminan Mutu

1 ruang PPm

1 ruang Balitbang

1 ruang Unit Penjaminan Mutu

1 ruang PPm

Ruang Dosen 1 Ruang 1 Ruang Dosen
Ruang BAAk 1 Ruang 1 Ruang
BAU 1 Ruang 1 Ruang
Laboratorium 1 ruang MIPA

1 ruang Komputer

1 ruang Lab Bahasa

1 Ruang Komputer
Jaringan 1 ruang internet

1 jenis provider dan tower internet

Perpustakaan 1 ruang, lebih 10.000 judul buku yang ada
Auditorium 1 ruang dapat menampung 1000 orang
Mess 1 unit rumah tinggal security
Parkir Parkir Mobil dapat menampung 100 unit mobil

Parkir Sepeda Motor dapat menampung 1000 unit motor

Fasilitas lain 1.    Kantin 5 buah

2.    Fotocopy 4 buah

 

 

Berdasarkan tabel dan data di atas menunjukkan bahwa perguruan tinggi yang tergolong masih muda, jauh dari apa yang diharapkan baik oleh mahasiswa sendiri terlebih lagi orang tua yang mengirim anaknya di kedua perguruan tinggi yang ada di Nias Selatan. Walaupun demikian, dari data tersebut terdapat beberapa item pembangunan dan pengembangan di lingkungan STKIP Nias Selatan dan STIE Nias Selatan hanya satu bagian saja misalnya jaringan media informasi, perpustakaan, auditorium, dan lain sebagainya. Hal ini bertujuan untuk:

  1. Efesiensi dalam penggunaan sumber
  2. Meningkatkan efektivitas melalaui perbaikan mutu layanan dan mutu PBM
  3. Responsif terhadap kebutuhan dan kondisi mahasiswa
  4. Memberikan kesempatan bagi siapa saja untuk berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan

 

  1. Berpikir Sistem Dalam Pengelolaan Perguruan Tinggi di STKIP Nias Selatan dan STIE Nias Selatan

Perguruan Tinggi yang ada di Kabupaten Nias Selatan, yaitu STKIP Nias Selatan dan STIE Nias Selatan adalah sebagai bentuk investasi sumberdaya manusia Nias. Artinya bahwa, setiap output yang dihasilkan oleh perguruan tinggi tersebut adalah sebagai investasi sumberdaya manusia jangka panjang dan berlaku seumur hidup. Hal ini sebagaimana konsep berpikir dalam bukunya Bertalanffy tentang “General System Theory (1968:27) bahwa “A general theory of hierarchic order obviously will be a main-stay of general system theory. Principles of hierarchic order can stated in verba language (Koestler, 1967; in Press); there are semimathematical ideas (Simon, 1965) connected with matrix theory, and formulations in terms of mathematical logic (Woodger, 1930-31)[9]. Itulah tujuan utama penyelenggaraan pendidikan tinggi yang ada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Nias Selatan.

Berpikir sistem dalam pengelolaan perguruan tinggi Nias Selatan merupakan sebuah perubahan paradigma, dimana pada awal berdirinya perguruan tinggi ini, banyak dan hampir sebagian masyarakat Nias mencibir dan mencemooh akan pelaksanaan serta pengelolaan perguruan tinggi tersebut. Berpikir sistem dalam pengelolaan Perguruan Tinggi di Nias Selatan atas dasar filosofi dari yayasannya yang mengatakan “Nias miskin karena bodoh, Nias bodoh karena miskin”. Karena diyakini bahwa hanya melalui kunci pendidikanlah bahwa sebuah bangsa atau daerah beradab. Sutjipto (2004:158) mengatakan bahwa perubahan paradigma, pertama-tama yang harus dilakukan adalah penyesuaian mental set. Menurut Patton yang dikutip Lincoln (1985) dalam Sutjipto (2004) adalah “A world view, a general perspective, a way of breaking down the complexity of the real world,…paradigms are deeply embedded in the socialization of adherents and practitioners telling them what is important, what is legitimate, what is reasonable…[10].

Hal ini merupakan sebuah tuntutan akan pembaharuan paradigma berpikir masyarakat dan teristimewa paradigma civitas akademika sebagai agen pembaharu di Kabupaten Nias Selatan. Maka sebagaimana dituangkan di dalam UU No. 20 tahun 2003 adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Dalam berpikir sistem pada pengelolaan Perguruan Tinggi di STKIP Nias Selatan dan STIE Nias Selatan diperlukan pengendalian manajemen. Proses pengendalian manajemen diawali dengan persiapan rencana-rencana yang, jika dilaksanakan sampai selesai, akan membantu pencapaian tujuan organisasi (Anthony, 1992:154)[11]. Rencana ini dibuat dengan mengingat strategi-sterategi yang diputuskan dalam proses perencanaan strategik yang dinyatakan dalam bentuk proyek, program, anggaran, sasaran, hasil, feadback, monitoring dan evaluasi dan dalam bentuk-bentuk lainnya. Diharapkan dari hasil analisis berpikir sistem pada pengelolaan perguruan tinggi tersebut seperti bagan di bawah ini.

 

Bagan Berpikir Sistem pada Pengelolaan Perguruan Tinggi

 

Sumber: diadaptasi dari Sistem Pengendalian Manajemen tetang Arus Informasi dalam Proses Pengendalian (Anthony, 1992:155).

 

Sebagaimana bagan berpikir sistem pada pengelolaan perguruan tinggi bahwa tujuan dan strategi adalah sebagai wujud dari rencana strategi (plan strategies) yang sudah disiapkan dari awal pada saat perguruan tinggi tersebut akan dibentuk. Rencana strategi ini akan mampu mencapai apa yang menjadi tujuan organisasi. Petunjuk umum merupakan undang-undang yang mengatur tentang pengelolaan perguruan tinggi yang dikeluarkan oleh pemerintah, sedangkan informasi lain merupakan segala bentuk informasi baik dari pengurus yayasan, pihak dosen atau tenaga pengajar dan staf yang telah direkrut dari awal oleh lembaga pendidikan tersebut. Informasi lainnya yaitu dari perguruan tinggi tetangga tentang penyelenggaraan pendidikan. Operasi pusat tanggung jawab adalah berupa ijin berdirinya organisasi yang diperoleh dari menteri pendidikan, dalam hal ini adalah Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) dan tanggung jawab dari yayasan sebagai penyantun organisasi tersebut.

Hasil dari tanggung jawab ini akan menjadi suatu bahan evaluasi, sehingga untuk mendapatkan pengakuan dan nilai organisasi ini akan diaudit baik secara akademik, administrasi dan integritas status dari organisasi tersebut, misalnya dengan terakreditasinya program studi yang ada di perguruan tinggi. Selanjunya akan dievaluasi kembali melalui unjuk kerja di masing-masing lini organisasi bahwa bila kemampuan unjuk kerja baik maka akan mendapatkan umpan balik sehingga menjadi sebuah bentuk operasi pusat tanggung jawab. Namun, bila mana unjuk kerja tidak memuaskan, maka direvisi kembali rencana-rencana yang perlu dikomunikasikan kembali kepada pemegang kebijakan baik melalui koordinator wilayah perguruan tinggi swasta (Kopertis) ataupun melalui Dirjen Dikti sehingga dapat dilakukan tindakan-tindakan untuk perbaikan. Perbaikan akan dilakukan oleh pimpinan perguran tinggi, pimpinan yayasan dan tentu dibawah pengawasan Kopertis dan Dirjen Dikti.

Pelaksanaan berpikir sistem pada Pengelolaan Perguruan Tinggi dibutuhkan pula komunikasi. Konsep komunikasi menurut John R. Wenburg, William W. Wilmoth dan Kenneth K Sereno dan Edward M Bodaken terbentuk menjadi tiga tipe: pertama, searah: pemahaman ini bermula dari pemahaman komunikasi yang berorientasi sumber yaitu semua kegiatan yang secara sengaja dilakukan seseorang untuk menyampaikan rangsangan untuk membangkitkan respon penerima. Kedua, interaksi: pandangan ini menganggap komunikasi sebagi proses sebab-akibat, aksi-reaksi yang arahannya bergantian. Ketiga, transaksi: konsep ini tidak hanya membatasi unsur sengaja atau tidak sengaja, adanya respon teramati atau tidak teramati namun juga seluruh transaksi perilaku saat berlangsungnya komunikasi yang lebih cenderung pada komunikasi berorientasi penerima.[12] Saat dosen memberi kuliah, komunikasi bukan saja berdasarkan fakta bahwa mahasiswa menafsirkan isi kuliah tetapi juga dosen menafsirkan perilaku anggukan atau kerutan kening mahasiswa.

Proses komunikasi pada hakekatnya adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan). Pikiran bisa merupakan gagasan, informasi, opini dan lain-lain yang muncul dari benaknya. Perasaan bisa berupa keyakinan, kepastian, keragu-raguan, kekhawatiran, kemarahan, keberanian dan sebagainya yang timbul dari lubuk hati.[13] Adakalanya seseorang menyampaikan buah pikirannya kepada orang lain tanpa menampakkan perasaan tertentu, yang menjadi permasalahan adalah bagaimana caranya agar ”gambaran dalam benak” dan ”isi kesadaran” pada komunikator itu dapat dimengerti, diterima dan bahkan dilakukan oleh komunikan.

 

 

Bab III

Penutup

 

  1. Kesimpulan
  2. Arah dan Strategi Umum Pengembangan Pendidikan bagi Daerah terkhusus di pulau Nias yang ada di bagian Selatan bahwa secara umum pengembangan pendidikan tersebut sesuai UU Sisdiknas sebagaimana telah digariskan bahwa pemerintah pusat dan pemerintah daerah menjamin bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran dan pendidikan yang layak serta terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar.
  3. Pentingnya lembaga pendidikan sebagai sistem yang sengaja dibentuk oleh masyarakat dalam membentuk pola berpikir masyarakatnya dari berpikir primitif ke arah berpikir modern dan dari berpikir kuno ke arah berpikir maju. Pendidikan dianggap penting karena ingin memanusiakan manusia sesuai dengan teori pendidikan sehingga manusia itu mencapai tingkat peradaban sebagai sebuah bangsa. Pendidikan secara umum mempunyai arti, suatu proses kehidupan dalam mengembangkan diri tiap individu untuk dapat hidup dan melangsungkan kehidupan.
  4. Manajemen sistem dalam proses pembangunan dan pengembangan pendidikan di Indonesia terkhusus di STKIP Nias Selatan dan STIE Nias Selatan adalah manajemen sistem yang secara umum dengan open sistem artinya pengendalian dan pemanfaatan semua faktor dan sumber daya yang diperlukan untuk mencapai atau menyelesaikan suatu keadaan yang sebenarnya untuk tujuan-tujuan tertentu. Sistem yang saling terintegrasi tersebut menggunakan fungsi manajemen berupa planning, organizing, Leading, dan controlling.
  5. Berpikir sistem dalam proses pengelolaan Perguruan Tinggi yang ada di Nias Selatan, yaitu STKIP Nias Selatan dan STIE Nias Selatan sebagai Perguruan Tinggi yang masih tergolong berusia muda pertama-tama yang harus dilakukan adalah penyesuaian mental set. Karena diyakini bahwa hanya melalui kunci pendidikanlah bahwa sebuah bangsa atau daerah mencapai peraberadaban sekaligus tuntutan akan pembaharuan paradigma berpikir masyarakat dan teristimewa paradigma civitas akademika sebagai agen pembaharu di Kabupaten Nias Selatan.

 

 

  1. Rekomendasi
    1. Diharapkan melalui pemerintah pusat dan pemerintah daerah menjamin bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran dan pendidikan yang layak tidak hanya pada pendidikan wajib belajar namun sampai pada jenjang pendidikan tinggi.
    2. Diharapkan melalui perguruan tinggi yang ada di Kabupaten Nias Selatan, yaitu STKIP Nias Selatan dan STIE Nias Selatan sebagai penyelenggaraan pendidikan mampu menjadikan sebagai suatu proses kehidupan dalam mengembangkan diri tiap individu untuk dapat hidup dan melangsungkan kehidupan. Selain itu supaya kedua lembaga pendidikan tinggi ini baik STKIP Nias Selatan dan STIE Nias mampu menerapkan fungsi manajemen berupa planning, organizing, Leading, dan controlling sebagai sistem manajemen yang saling terintegrasi sehingga pembangunan dan pengembangan pendidikan di indonesia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dapat terwujud secara khusus output pendidikan dari STKIP Nias Selatan dan STIE Nias Selatan mampu bersaing dikancah pendidikan.
    3. Dengan terbentuknya mental set, diharapkan manusia Indonesia secara umum dan terkhusus manusia Nias akan menjadi manusia yang seutuhnya, mampu berdikari dan sebagai agen pembaharu di Kabupaten Nias Selatan.
    4. Harapan lembaga pendidikan yang ada di Kabupaten Nias Selatan mampu membentuk suatu pola pemikiran yang positip untuk menjadi sebagai warga negara dan masyarakat yang sehat, cerdas dan mandiri.

Daftar Pustaka

 

Anthony Robert N. Dearden John. Bedford Norton M, 1992, Manajemen Control System 6th Edition, Alih Bahasa: Agus Maulana, Cet. 1, Binarupa Aksara, Jakarta.

 

Bertalanffy Ludwig von, 1968. General System Theory: Foundation, Development, Application, Rev. Edition, University of Alberta, Edmonton (Canada), George Braziller, New York.

 

Betss Frank, November 1992, How Systems Thinking Applies to Education, Volume 50, Number 3, Jurnal Improving School Quality, Pages 38-41, tersedia di http://www.ascd.org/publications/educational-leadership/nov92/vol50/num03/How-Systems-Thinking-Applies-to-Education.aspx, browsing tangal 13 Maret 2013.

 

Hidayat Syarif, tersedia di http://m.facebook.com/note.php?note_id, browsing tanggal  27 maret 2013.

 

Jamal Ma’mur Asmani, 2011. Tips efektif pemanfaatan teknologi dan informasi dan komunikasi dalam dunia pendidikan Yogjakarta, Diva press.

 

Lincoln, Yvonna S, 1985. Organizational Theory and Inquiry: The Paradigm Revolution, Sage Publications, Calofornia

 

Schermerhorn, John R, 2010. Introduction to Management, International Student Version, John Wiley & Sons, Inc., Hoboken, Denver.

 

Senge, Peter M, 1996. The Fifth Discipline: The Art and Practice of The Learning Organization, (Terjemahan) Alih Bahasa: Adiarni Nunuk, Cet. I, Binarupa Aksara, Jakarta.

 

Sutjipto, 2004. Kesaksian Seorang Rektor: Siapa Menyuruh Mahasiswa Turun Ke Jalan. Bunga Rampai Sketsa Pendidikan, Global Mahardika Publication dan UNJ, Jakarta.

 

Syaiful Bahri Djamarah, 1995. Anak Didik dari Interaksi Edukatif, Jakarta: PT Rineka Cipta.

 

Tilaar, H.A.R, 2009. Kekuasaan dan Pendidikan: Manajemen Pendidikan Nasional Dalam Pusaran Kekuasaan, Rineka Cipta, Jakarta.

 

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

 

http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2184012-pengertian-penggerakan-actuating/#ixzz1nfzTjKeM, browsing tanggal 23 Mei 2013.

 

[1] Lincoln Yvonna S. Organizational theory and inquiry: the paradigma revolution, Sage Publication, Beverly Hills, 1985. p. 29.

[2] Tilaar, H.A.R, 2009. Kekuasaan dan Pendidikan: Manajemen Pendidikan Nasional Dalam Pusaran Kekuasaan, Rineka Cipta, Jakarta.

[3] Syarif Hidayat http://m.facebook.com/note.php?note_id

[4] KBBI – Software Samsung, Android Program (sistem yang teritegrasi dalam media internet sebagai kamus elektronik)

[5] Sutjipto, 2004. Kesaksian Seorang Rektor: Siapa Menyuruh Mahasiswa Turun Ke Jalan? Bunga Rampai Sketsa Pendidikan, p. 101.

[6] Dalam bukunya Schermerhorn John R. yang berjudul Introduction to Management, John Wiley & Sons, Inc. Hoboken, Denver. p. 156.

[7] Tersedia di http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2184012-pengertian-penggerakan-actuating/#ixzz1nfzTjKeM,  di browsing tanggal 23 Mei 2013.

[8] Frank Betss, November 1992, How Systems Thinking Applies to Education, Volume 50, Number 3, Jurnal Improving School Quality Pages 38-41. tersedia di http://www.ascd.org/publications/educational-leadership/nov92/vol50/num03/How-Systems-Thinking-Applies-to-Education.aspx, browsing tangal 13 Maret 2013

[9] Ludwig von Bertalanffy, 1968. General System Theory: Foundation, Development, Application, Rev. Edition, University of Alberta, Edmonton (Canada), George Braziller, New York.

 

[10] Sutjipto, 2004. Kesaksian Seorang Rektor: Siapa Menyuruh Mahasiswa Turun Ke Jalan? Bunga Rampai Sketsa Pendidikan. p. 158-159

[11] Robert N Anthony, Dearden John. Bedford Norton M, 1992, Manajemen Control System 6th Edition, Binarupa Aksara, Jakarta.

[12] Jamal Ma’mur Asmani, Tips efektif pemanfaatan teknologi dan informasi dan komunikasi dalam dunia pendidikan, Jogjakarta, Diva press, 2011 hal. 97

[13] Syaiful Bahri Djamarah, Anak Didik dari Interaksi Edukatif, Jakarta: PT Rineka Cipta, 1995  hal. 127

 

 

sumber : https://www.academia.edu/

Facebook Comments

tags: , ,

Related For Lembaga Pendidikan dan Pembangunan Bangsa