Pandemi Covid-19 Menghukumku, Karya Melejitkanku

86

Sejak Covid-19 hadir di dunia ini sekitar bulan Desember 2019 yang merebak pertama kali terdengar secara umum di Kota  Wuhan, Hubei, Tiongkok, banyak kendala-kendala baru diberbagai sektor mulai terlihat. Korban terus berjatuhan, tidak peduli dengan status dan kedudukan, mereka tidak luput dari seragan virus yang mematikan ini. Bahkan para tenaga medis pun turut terkena dampaknya, tidak sedikit para tenaga medis sebagai garda terdepan dalam penanganan pandemi ini turut menjadi korban.

Tidak hanya di negara Tiongkok yang terjangkit COVID-19 ini, ternyata gerakannya sangat cepat menyebar diberbagai negara di dunia termasuk Indonesia. Sekitar bulan Maret 2020, Indonesia sudah mulai terus siaga memerangi virus corona ini karena memang sudah mulai masuk dan menjangkiti warga negara Indonesia. Masyarakat bersama pemerintah terus bergandeng tangan untuk memerangi virus ini dengan penuh kesadaran mematuhi aturan yang diberikan oleh pemerintah. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diterapkan oleh pemerintah untuk mencegah penyebaran virus corona tersebut di beberapa daerah.

Memang tidak mudah menjalankan hidup dikarantina, sangat sedih, kangen, takut, dan pikiran negatif lainnya terus berkembang ketika pertama kali dilaksanakan karantina mandiri. Namun setelah berjalan beberapa minggu tentunya hal ini sudah disadari oleh banyak masyarakat, bahwa hal ini dilakukan oleh pemerintah demi kebaikan kita semua.

Dunia Pendidikan juga terkena dampaknya, sehingga sekolahpun disebagian besar di wilayah Indonesia terkena dampaknya yaitu melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau belajar  dan mengajar dari rumah. Saya sebagai seorang guru Prakarya dan Kewirausahaan di SMA Ehipassiko School BSD Kota Tangerang Selatan dan semua sahabat guru kami mulai dari TK, SD, SMP, dan SMA juga terkena imbasnya untuk melaksanakan KBM dari rumah.

Segala informasi baik dari Yayasan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Organisasi Guru, dan media lainnya mulai ada titik terang dengan adanya berbagai macam pelatihan yang disiapkan oleh para pemerhati pendidikan. Kami bersama Yayasan dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan terus berkomunikasi mengenai teknis PJJ yang dilaksanakan. Kami merasa sangat beruntung karena sekolah kami sudah Deploy Google Suite sejak tahun 2015, sehingga sangat terasa manfaatnya ketika sekolah harus mengadakan PJJ, karena guru dan siswa sudah paham dengan fasilitas seperti Google Meet, Google Classroom, Google Form, dll.

Pembelajaran jarak jauh minimal harus memiliki 4 hal penting yang  dipersiapkan oleh sekolah diantaranya adalah:

  1. Ruang Kelas Maya, digunakan sebagai wadah induk KBM berjalan. Sebagai contoh Google Classroom, rumah Belajar, Edmodo, dll
  2. Video Conference (Vicon), digunakan untuk bertatap muka secara virtual bersama siswa-siswi agar menumbuhkan ikatan batin yang dalam antara siswa dan guru. Sebagai contoh dapat menggunakan Google Meet, Jitsi, Zoom, Microsoft Team, dll
  3. Penilaian, digunakan untuk mengukur kemajuan belajar siswa-siswi dan capaian belajar. Sebagai contoh Google Form (fasilitas kuis), Quizizz, Microsoft Form, dll
  4. Media Penyimpanan, digunakan untuk menyimpan data baik itu media pembelajaran, administrasi pendidikan, dan lainnya. Sebagai contoh adalah Google Drive, OneDrive, Dropbox, dll

Keempat hal tersebut adalah minimal yang harus ada, jika lebih dari itu tentunya akan sangat representatif. Model PJJ  ini kami lihat cocok untuk diterapkan di SMP dan SMA, namun tidak secara langsung untuk TK dan SD, mereka dapat menerapkan hal tersebut namun tidak serta merta secara holistik.

Saya merasa beruntung sekali karena diberi kesempatan untuk ikut pelatihan online dari berbagai penyelenggara seperti Dinas Pendidikan, Ikatan Guru Indonesia, Microsoft, dll. Terkesan sekali ketika ikut pelatihan yang diadakan oleh Microsoft dan Guru Inovatif, karena saya baru tahu ternyata microsoft juga memiliki program untuk pendidikan dan yaitu dengan free Office 365 jika sekolah memiliki website dengan domain .sch.id. Disana kami bersama  kurang lebih 7.000 guru diseluruh Indonesia belajar fasilitas office 365 untuk diterapkan di dunia pendidikan. Pada intinya sama juga dengan yang dimiliki oleh Google. Setelah belajar berbagai hal mengenai fasilitas PJJ tersebut, ada lagi ilmu baru bagaimana cara Deploy Office 365 di sekolah, dan kami bersyukur dengan mengikuti tahapan-demi tahapan sekolah kami akhirnya sukses memiliki akun office 365 untuk guru sebanyak 500.000 akun dan untuk siswa 1 juta akun. Hal ini akan kami terapkan juga sebagai tambahan fasilitas PJJ selain yang sudah kami miliki yaitu dari Google Suite.

Kemudian kami bersama teman-teman IGI Kota Tangerang Selatan mengadakan Pelatihan PJJ untuk guru seluruh Indonesia, alhasil yang mengikuti workshop kami cukup banyak hingga 500 orang lebih. Kami terus berbagi untuk guru – guru model pembelajaran PJJ agar nantinya setelah pelatihan tersebut  mereka dapat menerapkan di sekolah mereka masing-masing. Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan, Bapak Drs. TARYONO, M.Si sangat mendukung acara ini bahkan beliau sempat membuka acara PJJ itu dengan penuh antausias. Setelah PJJ 1 sukses dilanjutkan dengan Pelatihan PJJ 2 dan hal ini juga didukung oleh Bapak Wakil Walikota Tangerang Selatan Drs. H. Benyamin Davnie yang berkenan membuka acara Pelatihan PJJ 2 tersebut.

Kami bersama IGI Kota Tangerang Selatan yang di nahkodai oleh Bapak Drs. Fikron ‎Al Choir, M.Pd., MM., terus memberikan pelayanan terbaik untuk para guru khususnya diwilayah Kota Tangerang Selatan. Inilah makna terindah dari Pandemi COVID-19 yang menghukum saya untuk WFH, namun disisi lain kami bersama para guru disekolah terus menciptakan inovasi pembelaaran dan bersama sahabat IGI terus mengembangkan dan mensosialisasikan Desain PJJ yang sudah kami pelajari. Indahnya dapat Berbagi.

Demikian sedikit pengalaman di masa Pandemi COVID-19 dalam dunia pendidikan yang saya alami. Setidaknya hal ini dapat membangkitkan semanagat untuk terus berkarya tanpa henti dalam dunia pedidikan diera pandemi yang memaang harus cerdas dalam teknologi, mampu melihat hal positif yang dapat dijadikan peluang, cerdas dalam bertransformasi, dan yang paling penting tetap menumbuhkan nilai moralitas yang mulia untuk menjaga kita tetap benar dalam pengabdian.

Terima kasih

 

Penulis :
Roch Aksiadi, S.Ag., ST., MM

  1. Kepala SMAS Ehipassiko School
  2. Guru Prakarya dan Kewirausahaan SMAS Ehipassiko School
  3. Ketua Kanal Pelatihan Satu Guru Satu Video Pembelajaran (SAGUSAVI) Ikatan Guru Indonesia
  4. Pengurus IGI Kota Tangerang Selatan
  5. Founder ManajemenPendidikan.Net

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Chat dengan Kami