Pentingnya “Adab” untuk Generasi Z

254

Tangerang, 30 April 2020 –  ManajemenPendidikan.Net

Artikel ini dibuat oleh Ibu Lili Kartikawati, S.Kom dari SMK  Negeri 4 Yogyakarta, sebagai peserta dalam pelatihan web desain dari ManajemenPendidikan.Net

Jika dicermati, sepanjang sejarah perjuangan di Indonesia, para pejuang dan tokoh di Indonesia, telah melakukan suatu strategi peradaban dalam menyebarkan dan menanamkan budaya di wilayah Nusantara. Sesuai dengan karakter dasar manusia yang yang tidak dapat terpisah dari kebergantungan kepada Tuhan dan tatanan masyarakat yang teratur. Belajar bukan hanya menyerap pengetahuan saja. Tetapi, lebih dari itu, generasi Z diharapkan memiliki tanggung jawab dan memiliki keimanan yang kuat.

Iman akan selalu diuji (QS al-’Ankabut:2-3). Era modern ditandai dengan kebebasan informasi yang massif. Godaan paham-paham yang merusak iman begitu dahsyat. Zaman ini juga ditandai dengan pemberontakan manusia untuk menolak campur tangan Tuhan dalam kehidupan manusia. Permasalahan yang terjadi pada generasi Z telah digambarkan di firman Allah tersebut. Generasi Z telah terbiasa menikmati teknologi semenjak di alam rahim, tidak heran generasi Z lebih mahir dan massif dalam memanfaatkan teknologi dibandingkan generasi milenial apalagi generasi yang lebih dahulunya. Banyak ditemui orang tua terkejut dengan balitanya yang tanpa diajari menggunakan gadget, baru memegang dan langsung dapat mengoperasikan gadget yang dipinjamkan orang dewasa kepada balita tersebut. Realita tersebtlah yang terjadi pada generasi Z. 

 

Kemudahan teknologi yang terbiasa dirasakan dapat mengubah pemikiran generasi Z untuk “Weh Luweh”. artinya generasi Z terhambat sensitifitasnya untuk peka terhadap lingkungan, terkendala untuk bersyukur dan mengendalikan emosinya, bahkan yang lebih parah generasi Z akan mudah berfikir pendek alias lebih suka menyelesaikan masalahnya dengan potong kompas tanpa memikirkan efek kedepannya. Itu semua terjadi karena generasi Z berada di titik dimana generasi Z merasa bahwa teknologi selalu mempermudah dan memuaskan segala aktivitas pemenuhan kebutuhannya. Efek yang terjadi pada dunia nyata adalah generasi Z akan lebih ekspresif dalam segala hal, misalnya merasa tersinggung dengan teman maka akan marah-marah dan cenderung terjadi perselisihan bahkan melukai sesama.

Generasi Z memiliki keunikan figital, yaitu generasi ini eksis di dunia maya dan dunia nyata. Banyak dijumpai pada generasi Z yang memiliki 2 kepribadian, contohya di dunia nyata menjadi pribadi yang baik, pendiam dan penurut tetapi di dunia maya berkebalikannya. Berkebalikannya adalah di dunia nyata tidak dikenal tetapi didunia maya terkenal sebagai gamer yang handal sehingga followernya jutaan, penggemarnya sesama pecinta game di dunia maya luar biasa banyak sehingga menjadi pusat perhatian pecinta game.

 

Keunikan lain yang dimiliki generasi Z adalah hiper customisasi, yaitu kegiatan yang dilakukan untuk menunjukan ciri identitas diri baik di dunia maya maupun dunia maya. Menunjukan diri yang berbeda dengan yang lain, sering update status untuk memperlihatkan style-nya (Gaya hidup, Penampilan, Kelas Sosial, dll).

 

Keunikan selanjutnya yang dimiliki oleh generasi Z adalah Realistis, Dibandingkan dengan generasi milenial, generasi Z masih berani mimpi tinggi dan memiliki cita-cita besar untuk diri mereka sendiri serta lebih sadar akan keterbatasan diri, ancaman dan tantangan yang ada didunia luar, oleh sebab itu mereka memanfaatkan teknologi untuk dapat mengantisipasi ancaman dan tantangan didunia luar.

 

FOMO sebagai salah satu keunikan yang dimiliki generasi Z yaitu Fear Of Missing Out yang artinya takut melewatkan sesuatu. Perilaku yang mencerminkan FOMO diantaranya tidak mau terlepas dari gadget dan selalu merefresh newsfeed di social media, terbukti dari salah satu hasil penelitian bahwa generasi Z rela melewatkan jam makan dan tidurnya demi eksistensinya di media sosial.

 

Keunikan gaya hidup generasi Z, Weconomist yang timbul dari fenomena ekonomi berbagi. Ekonomi berbagi ini adalah konsep memanfaatkan benda tanpa harus memiliki benda yang harganya semakin tidak terjangkau dengan keadaan ekonomi seperti sekarang ini, contonya adalah dengan memanfaatkan teknologi ekonomi berbagi seperti gojek, uber, grab. Ketiga teknologi tersebut akrab dengan keseharian generasi Z, sehingga mereka pergi kemana-mana tanpa harus punya kendaraan sendiri.

 

Do It Yourself-DIY atau melakukan sendiri ini adalah gaya hidup dimana mereka merasa tidak perlu sekolah khusus untuk mendapatkan banyak ilmu untuk membantu kehidupan mereka sehari-hari karena mereka punya google dan youtobe. Segala ketidak tahuan mereka, dapat ditemukan jawabannya dengan memanfaatkan google dan youtobe seperti mencari resep makanan, cara memperbaiki handphone dan cara menyelesaikan masalah yang mereka hadapi lainnya dalam kehidupan sehari-hari.

 

Penelitian di Amerika menunjukkan bahwa 72% generasi Z merasa kompetitif terhadap orang yang melakukan pekerjaan yang sama. Ini menunjukkan bahwa generasi Z terpacu untuk maju dan jadi yang terbaik. Keunikan ini akan menjadi berbahaya jika antusiasme yang dimiliki berlebih sehingga dapat melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

 

Keunikan generasi Z tersebut harus diimbangi dengan penguatan pondasi ahlak/karakter yang juga sering disebut sebagai “adab”. Pembiasaan mengingat Allah, berserah diri kepada Allah, dan ikhlas menjadi hamba Allah, manusia akan menjadi tenang hatinya. Tanpa mengingat Allah dan sikap jiwa yang ikhlas tunduk kepada Allah, manusia tidak akan pernah meraih ketenangan jiwa, sebab kebutuhan primernya sebagai manusia tidak terpenuhi. Allah SWT memperingatkan kita semua : “Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku (Al-Qur’an) maka baginya penghidupan yang sempit dan akan Kami kumpulkan ia pada hari kiamat dalam kondisi buta” (QS. Thaahaa: 124)

 

Harapannya generasi Z tidak merasa mampu mengatur kehidupannya tanpa bimbingan Tuhan. Itulah yang dikatakan pakar, Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, bahwa manusia modern telah menjadikan dirinya sebagai Tuhan dan menjadikan Tuhan sebagai manusia (deity is humanised and man is deified). Generasi Z perlu selektif, pahami dan cermati dengan baik bacaan atau tayangan apa saja yang dinikmati. Juga, buku-buku pelajaran yang diterima. Jangan sampai generasi Z terpengaruh informasi yang menyesatkan, sehingga secara perlahan, menjauhkan diri dari adab. Bahkan, generasi Z ”kehilangan dirinya” – bukan dalam arti fisik – karena mereka tidak mampu lagi mengontrol dan menyadari tindakannya baik dan benar atau tidak.

Jadi, di zaman modern seperti ini, tugas utama generasi Z adalah menanamkan tauhid, agar memiliki keimanan yang kokoh. Dan itulah yang diamanahkan Rasulullah SAW, agar generasi penerus bangsa sebagai manusia yang beradab. ”Akrimuu aulaadakum, waahsinuu adabahum.” Artinya, muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah adab mereka. (HR Ibn Majah). Adab terpenting yang wajib dimiliki oleh seorang manusia adalah adab kepada Tuhan-nya. Mencari ilmu secara sungguh-sungguh dan ikhlas, maka seorang dapat maraih hikmah dari Allah. Setelah beradab kepada Allah SWT dengan menjauhkan dari kemusyrikan, kemudian penanaman adab selanjutnya adalah agar beradab kepada orang tua, memiliki sikap ihsan, menegakkan kewajiban-kewajiban seperti shalat, melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar dan bergaul dengan sesama manusia dengan jiwa yang jauh dari rasa sombong (QS Luqman:12-19).

 

Akar masalah yang menimpa generasi Z saat ini adalah ”hilang adab” (loss of adab). Begitu pentingnya masalah adab ini, maka bisa dikatakan, jatuh-bangunnya suatu generasi bangsa tergantung sejauh mana mereka dapat memahami dan menerapkan konsep adab ini dalam kehidupan mereka; dimulai dari kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, dan negara.

 

Generasi Z… 

Tunjukan adabmu…

Tunjukan ketimuranmu… 

Jadikan bangsa ini, Bangga padamu.

 

Penulis :

Lili Kartikawati, S.Kom

 

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Chat dengan Kami