RUANG LINGKUP MANAJEMEN PENDIDIKAN

Senin, Januari 8th 2018. | Artikel, Desain Pembelajaran

 

Sumber Gambar : http://slideplayer.info/

 

 

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah : Dasar-dasar Manajemen Pendidikan

Dosen Pengampu : H. Nur Khoiri, M. Ag

Oleh :

Nasrul Abidin             (133711046)

Nurwahidah                (1403066066)

Nailal Husna               (1403076030)

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2016

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Sekolah adalah lembaga yang bersifat kompleks dan unik. Bersifat kompleks karena sekolah sebagai organisasi didalamnya terdapat berbagai dimensi satu sama lain saling berkaitan dan saling menentukan. Sedangkan sifat unik, menunjukkan bahwa sekolah sebagai organisasi memiliki ciri-ciri tertentu yang tidak dimiliki oleh organisai-organisasi lain. Ciri-ciri yang menempatkan sekolah memiliki karakter tersendiri, dimana terjadi proses belajar mengajar, tempat terselenggaranya pembudayaan kehidupan umat manusia. Karena sifatnya yang kompleks dan unik tersebutlah, sekolah sebagai organisassi memerlukan tingkat koordinasi yang tinggi.

Untuk merealisasikan tujuan pendidikan nasional setiap sekolah perlu melakukan manajemen sekolah agar tujuan kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung secara teratur, efektif dan efisien. Sekolah merupakan lembaga pendidikan, yang menampung peserta didik dan dibina agar mereka memiliki kemampuan, kecerdasan dan keterampilan. Dalam proses pendidikan diperlukan pembinaan secara terkoordinasi dan terarah.

Agar pemahaman kita tentang manajemen pendidikan lebih luas dan komprehensif, maka penulis menyusunnya dalam sebuah makalah dengan judul “Ruang Lingkup Manajemen Pendidikan”. Semoga bermanfaat dan berguna untuk pribadi penulis dan pembaca pada umumnya.

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang makalah di atas, maka perumusan masalah dalam makalah meliputi:

  1. Apa saja ruang lingkup manajemen pendidikan?
  2. Apa yang dimaksud manajemen kurikulum?
  3. Apa yang dimaksud manajemen siswa?
  4. Apa yang dimaksud manajemen personal sekolah?
  5. Apa yang dimaksud manajemen organisasi sekolah?
  6. Apa yang dimaksud manajemen tata laksana sekolah?
  7. Apa yang dimaksud manajemen keuangan sekolah?
  8. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui ruang lingkup manajemen pendidikan
  2. Untuk mengetahui manajemen kurikulum
  3. Untuk mengetahui manajemen siswa
  4. Untuk mengetahui manajemen personal sekolah
  5. Untuk mengetahui manajemen organisasi sekolah
  6. Untuk mengetahui manajemen tata laksana sekolah
  7. Untuk mengetahui manajemen keuangan sekolah
  8. Manfaat Penulisan

Adapun manfa’at yang dapat diperoleh dari penulisan makalah ini sebagai berikut:

  1. Secara teoritis sebagai tambahan khasanah pengetahuan dibidang ilmu kependidikan khususnya tentang ruang lingkup manajemen pendidikan
  2. Secara praktis menjadi sarana latihan bagi penulis dalam mengembangkan seni dalam menulis karya ilmiah, serta bagi pembaca semua menjadi sarana untuk memperoleh ilmu terkait ruang lingkup manajemen pendidikan serta pelaksanaan manajemen pendidikan dalam praktik pendidikan
  1. Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan makalah ini dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. BAB I PENDAHULUAN

Bab ini merupakan bab pertama yang meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat  penulisan, dan sistematika penulisan

  1. BAB II LANDASAN TEORI

Bab ini berisi tentang kajian-kajian teori yang melandasi tentang ruang lingkup manajemen pendidikan

  1. BAB III PEMBAHASAN

Bab ini menguraikan tentang manajemen kegiatan ekstrakurikuler dalam meningkatkan kualitas sekolah

  1. BAB IV PENUTUP

Bab ini merupakan bab terakhir yang berisi tentang simpulan, saran, dan daftar pustaka

 

 

 

 

 

BAB II

KAJIAN TEORI

 

  1. Ruang Lingkup Manajemen Pendidikan[1]

Dalam membicarakan ruang lingkup manajemen pendidikan ini akan dilihat dari 4 sudut pandang, yaitu dari sudut wilayah kerja, objek garapan, fungsi atau urutan kegiatan dan pelaksana.

  1. Ruang lingkup menurut wilayah kerja.

Berdasarkan atat tinjauan wilayah kerja, ruang lingkup manajemen pendidikan dipisahkan menjadi:

  1. Manajemen pendidikan seluruh Negara, yaitu manajemen pendidikan untuk urusan nasional. Yang ditangani dalam lingkup ini bukan hanya pelaksaan pendidikan di sekolah saja tetapi juga pendidikan luar sekolah, pendidikan pemuda, penyelenggaraan latihan,penelitian, pengembangan masalah-masalah pendidikan serta meliputi pula kebudayaan dan kesenian.
  2. Manajemen pendidikan satu provinsi, yaitu manajemen pendidikan yang meliputi wilayah kerja satu propinsi yang pelaksanaannya dibantu lebih lanjut oleh petugas manajemen pendidikan di kabupaten dan keca,atan.
  3. Manajemen pendidikan satu kabupaten/kota, yaitu manajemen pendidikan yang meliputi wilayah kerja satu kabupaten/kota, meliputi semua urusan pendidikan memuat jenjang dan jenis.
  4. Manajemen pendidikan satu unit kerja. Pengertian dalam manajemen unit ini lebih dititikberatkan pada satu unit kerja yang langsung menangani pekerjaan mendidik misalnya; sekolah, pusat latihan, pusat pendidikan, dan kursus-kursus. Dengan demikian ciri unit adalah adanya (1) Pemberi pelajaran. (2) Bahan yang diajarkan. (3) Penerima pelajaran, ditambah semua sarana penunjangnya.
  5. Manajemen kelas, sebagai suatu kesatuan kegiatan terkecil dalam usaha pendidikan yang justru merupakan “dapur inti” dari selurih jenis manajemen pendidikan. Dalam manajemen kelas inilah kemudian terdapat istilah “pengelolaan kelas” baik yang bersifat instruksional maupun manajerial.
  6. Ruang lingkup menurut objek garapan

Yang dimaksud dengan objek garapan manajemen pendidikan dalam uraian ini adalah semua jenis kegiatan manajemen yang secara langsung maupun tidak langsung terlibat dalam kegiatan mendidik. Sebagai titik pusat pandangan adalah kegiatan mendidik di sekolah. Namun karena kegiatan disekolah tersebut tidak dapat dipisahkan  dari jalur-jalur lingkungan formal maupun non-formal, maka tentu juga dibahs lingkup sdistem pendidikan sampai ke tingkat pusat.

Ditinjau dari objek garapan manajemen pendidikan, dengan titik tolak pada kegiatan “dapur inti” yaitu kegiatan belajar-mengajar di kelas, maka sekurang-kurangnya ada 8 obyek garapan, yaitu:

  1. Manjemen siswa
  2. Manajemen personil sekolah
  3. Manajemen kurikulum
  4. Manejemen sarana atau material
  5. Manajemen tatalaksana pendidikan
  6. Manjemen pembiayaan
  7. Manjemen lembaga-lembaga pendidikan dan organisasi pendidikan
  8. Manajemen hubungan masyarakat atau komunikasi pendidikan
  9. Menurut fungsi atau urutan kegiatan

Adapun fungsi manjemen atau pengeloaan ini adalah:

  1. Merencanakan
  2. Mengorganisasikan
  3. Mengarahkan
  4. Mengkoordinasikan
  5. Mengkomunikasikan
  6. Mengawasi atau mengevaluasi

Bagaimanapun pembagiannya, atau apapun sebutannya, unsur-unsur kegiatan tersebut tetap berkaitan satu sama lain. Kaitan tersebut bersifat bolak balik. Jadi misalnya kita berpikir tentang perencanaan, tentu telah berpikir pula bagaimana nanti bentuk organisasinya, siapa-siapa yang akan menangani tugas, bagaimana pengarahannya dan sebagainya.

  1. Menurut pelaksana

Banyak orang mengira bahwa bertanggungjawab melaksanakan manjemen pendidikan hanyalah kepala sekolah dan staf tata usha. Pandangan seperti itu keliru. Manajemen adalah suatu kegiatan yang sifatnya melayani. Dalam kegiatan belajar mengajar, manajemen berfungsi untuk melancarkan jalannya proses tersebut, atau membantu terlaksananya kegiatan mencapai tujuan agar diperoleh hasil yang efektif dan efisien.

Dalam lingkungan kelas, guru adalah administrator. Gutu harus melaksakan kegiatan manajemen. Di lingkungan sekolah, kepala sekolah adalah administrator. Dengan pengertian bahwa manjemen adalah pengelolaan, manjemen, maka kepala sekolah bertindak sebagai manajer di sekolah yang dipimpinnya.

Selain para administrator di sekolah, masih ada lagi pelaksana manjemen pendidikan yaitu orang-orang yang bekerja di kanto-kantor pendidikan dan pusat-pusat latihan atau di kursus-kursus mempunyai peranan dan tugas seperti pelaksana di sekolah.

 

  1. Manajemen Kurikulum
  2. Pengertian

Manajemen kurikulum adalah segenap proses usaha bersama untuk memperlancar pencapaian tujuan pengajaran dengan titik berat pada usaha, meningkatkan kualitas interaksi belajar mengajar. Kurikulum dalam arti sempit adalah jadwal pelajaran. Kurikulum dalam arti luas adalah semua pengalaman  yang diberikan oleh lembaga pendidikan kepada anak didik selama pmengikuti pendidikan.[2] Dengan pengertian ini maka pengaturan  halaman sekolah, penempatan keranjang sampah atau ketatnya disiplin sekolah dijalankan ikut termasuk dalam cakupan kurikulum karena semuanya itu akan menghasilkan suatu yang tercermin pada lulusan.

  1. Pedoman-pedoman pelaksaan kurikulum[3]

Disamping perencanaan dalam pendidikan, pemerintah pusat mengeluarkan pedoman-pedoman umum yang harus diikuti sekolah, pedoman-pedoman tersebut antara lain:

  1. Struktur program

Yang dimaksud dengan struktur program adalah susunan bidang pelajaran yang harus dijadikan pedoman pelaksanaan kurikulum di suatu jenis  dan jenjang sekolah.

  1. Penyusunan jadwal pelajaran

Yang dimaksud dengan jadwal pelajaran adalah urutan-urutan mata pelajaran sebagai pedoman  yang harus diikuti dalam pelaksaan pemberian pelajaran. Jadwal pelajaran ini sangat bermanfaat bagi, siswa, guru, maupun kepala sekolah.

  1. Penyusunan kalender pendidikan

Menyusun rencana kerja sekolah untuk kegiatan selama satu tahun merupakan bagian manjemen kurikulum  terpenting yang harus sudah disusun sebelum ajaran baru. Tujuan dari penyusunan kalender akademik adalah agar pengguanaan waktu selama satu tahun terbagi secara merata dan sebaik-baiknya dari peningkatan mutu pendidikan. Adanya pedoman dari pusat dimaksudkan agar ada keseragaman untuk seluruh sekolah di Indonesia. Hal-hal yang diatur adalah:

  • Penerimaan siswa baru dan persiapan tahun ajaran baru
  • Prosedur pengisian hari pertama di sekolah
  • Kegiatan belajar mengajar
  • Kegiatan dalam liburan sekolah
  • Upacara-upacara sekolah
  • Kegiatan ekstrakurikuler
  1. Pembagian tugas guru

Dalam mengadakan pembagian tugas guru, kepala sekolah tidak boleh “main perintah dan main tunjuk” tetpi dibicarakan  dalam rapat meja guru sebelum ajaran dimulai.

  1. Pengaturan atau penempatan siswa dalam kelas

Pengaturan siswa dalam kelas sebaiknya sudah dilakukan bersama waktu dengan pendaftaran ulang siswa tersebut. Hal ini akan mempermudah siswa baru pada peristiwa hari pertama masuk ke sekolah. Oleh karena keadaan kemapuan siswa belum dikenal, maka yang dipakai untuk pertimbangan penempatan ke kelas anatara lain: jenis kelamin, asal sekolah dan jika mungkin latar belakang orang tua atau wali.

  1. Penyusunan rencana mengajar

Penyusunan rencana mengajar dilakukan dua tahap:

  • Tahap penyusunan rencana terurai

Yang dimaksud dengan penyusunan rencana terurai adalah pembuatan program garis besar tetapi terperinci mengenai penyajian  bahan pelajaran selam  satu tahun.

  • Tahap penyusunan satuan pelajaran

Penyusunan satpel sebainya dilakukan sekaligus selesai sebelum mengajar. Namun jika tidak mungkin, dilakukan secara bertahap jika sudah memadai.

Pengembangan kurikulum berlandaskan manajemen, berarti melaksakan kegiatan pengembangan kurikulum berdasarkan pola pikir manajemen, atau berdasarkan proses manajemen sesuai dengan fungsi-fungsi manajemen, yang terdiri dari:[4]

  1. Perencanaan kurikulum, yang dirancang berdasarkan analisis kebutuhan, menggunakan model tertentu dan mengacu pada suatu desain kurikulum yang efektif
  2. Pengorganisasian kurikulum yang ditata baik secara struktural maupun secara fungsional
  3. Implementasi yakni pelaksanaan kurikulum di lapangan
  4. Ketenagaan dalam pengembangan kurikulum
  5. Kontrol kurikulum yang mencakup evaluasi kurikulum
  6. Mekanisme pengembangan kurikulum secara menyeluruh
  7. Segi manajemen dalam pelaksanaan kurikulum[5]

Sebagai salah satu  batasan pengertian  yang dimaksud dengan  pelaksanaan kurikulum  adalah pelaksanaan mengajar dikelas yang berkali-kali telah disebut merupakan  inti dari kegiatan pendidikan sekolah. Oleh karena itu, secara manajemen, selama guru berada dalam kelas terbagi menjadi 3 tahap, yaitu:

  1. Persiapan

Yang dimaksud dengan tahap persiapan adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru sebelum memulai mengajar, yang dikerjakan antara lain:

  • Mengucapkan “selamat pagi” dan meletakkan alat-alat mengajar di meja
  • Meperhatikan kondisi sekeliling kelas apakah ada kondisi yang mengganggu proses belajar mengajar misalnya jendela belum ditutup, papan tulis belum dibersihkan, terdapat gambar miring, dan sebagainya
  • Melakukan absensi
  • Memeriksa apakah siswa sudah siap dengan catatan dan sudah tidak adalagi barang-barang atau buku lain yang dipegang siswa
  1. Pelaksanaan pelajaran

Yang dimaksud dengan pelaksanaan pelajaran adalah kegiatan belajar mengajar sesungguhnya yang dilakukan oleh guru dan sudah ada interaksi langsung dengan siswa mengenai pokok bahasan yang diajarkan. Pelaksanaan pelajaran terbagi menjadi 3 tahapan, yaitu:

  • Pendahuluan: yaitu mulai mengajar dan mengarahkan perhatian untuk masuk ke pokok bahasan, misalnya dengan memberikan apersepsi atau mengajukan pertanyaan yang harus dijawab siswa atau menyuruh siswa untuk bercerita tentang bahan yang akan diterangkan dan sebagainya
  • Pelajaran inti: interaksi belajar mengajar yang terjadi dimana selama guru dan siswa membahas pokok bahasan yang menjadi acara pada jam itu
  • Evaluasi: yaitu kegiatan yang dilakukan oleh guru setelah selesai pembahasan pelajaran inti. Penutupan ini dapat dilakukan dengan: membuat ringkasan, mengajukan pertanyaan, memberikan evaluasi formatif, memberikan tugas rumah dan sebagainya
  1. Penutupan

Yang dimaksud dengan penutupan adalah kegiatan yang terjadi di kelas setelah guru selesai mengajarkan materi. Penutupan dilakukan dengan menghapus papan tulis, pesan dan kesan, ucapan salam dan sebagainya.

 

  1. Manajemen Siswa
  2. Pengertian

Manjemen siswa adalah kegiatan pencatatan siswa mulai dari proses penerimaan hingga siswa tersebut lulus dari sekolah disebabkan karena tamat atau sebab lain.[6] Tidak semua hal yang berhubungan dengan siswa termasuk dalam manjemen siswa, tetapi adakalanya masuk  dalam manjemen lain. Mengelompokkan siswa untuk membentuk kelompok-kelompok belajar, termasuk dalam majemen kurikulum, tetapi mencatat hasil belajar siswa dapat dikategorikan sebagai manjemen siswa.

  1. Ruang lingkup manajemen siswa[7]

Dengan melihat  pada proses memasuki sekolah sampai  sampai meninggalkannya terdapat 4 kelompok pemanajemenan, yaitu:

  1. Penerimaan siswa baru

Penerimaan siswa baru merupakan peristiwa penting bagi suatu sekolah, karena peristiwa ini merupakan titik awal yang menentukan kelancaran tugas sesuatu sekolah. Maka menjelang tahun ajaran baru proses penerimaan siswa baru harus sudah selesai. Untuk itu penunjukkan panitia penerimaan siswa baru telah dilakukan oleh kepala sekolah sebelum tahun ajaran berakhir.

Tugas panitia penerimaan:

  • Menentukkan banyaknya siswa yang diterima
  • Menentukkan syarat-syarat penerimaan siswa baru
  • Melaksakan penyaringan
  • Mengadakan pengumuman penerimaan
  • Mendaftar kembali calon yang sudah diterima
  • Melaporkan hasil pekerjaannya kepada pimpinan sekolah
  1. Ketatausahaan siswa

Sebagai tindak lanjut dari penerimaan siswa maka kini menjadi tugas tata usaha sekolah untuk mrmproses siswa-siswa tersebut dalam catatan sekolah. Catatan-catatan sekolah dibedakan atas 2 jenis yaitu:

  • Catatan-catatan untuk seluruh sekolah
  1. Buku induk.
  2. Buku klapper
  3. Catatan tata tertib sekolah:
  • Catatan-catatan untuk satu kelas (masing-masing)
  1. Buku kelas, cuplikan buku induk
  2. Buku presensi kelas yang diisi tiap\ hari dan p\ada akhir bulan dihitung presentasenya
  3. Buku-buku lain mengenai catatan presensi belajar dan bimbingan penyuluhan
  4. Pencatatan bimbingan dan penyuluhan

Ada empat jenis bimbingan  yang dapat dilaksanakan di sekolah yaitu:

  • Bimbingan pribadi
  • Bimbingan social
  • Bimbingan belajar
  • Bimbingan karir
  1. Pencatatan prestasi belajar

Pencataan prestasi belajar  ada yang merupakan pencatatan untuk seluruh sekolah, untuk masing-masing kelas da nada yang untuk siswa perorangan. Diantaranya dicatat dalam bentuk:

  • Buku daftar nilai
  • Buku leggier (buku kumpulan nilai)
  • Buku raport

 

  1. Manajemen Personal Sekolah

Personalia adalah semua anggota organisasi yang bekerja untuk kepentingan organisasi itu yaitu untuk mencapai tujuan yang sudah ditentukan. Personalia organisasi pendidikan mencakup para guru, para pegawai, para wakil siswa/mahasiswa. Termasuk juga para manajer pendidikan yang mungkin dipegang oleh beberapa guru. Personalia ini ditangani oleh para manajer agar aktivitas mereka dapat dipertahankan dan semakin meningkat.

Orang-orang dalam organisasi pendidikan merupakan penentu keberhasilan atau kegagalan pendidikan. Walaupun sumber pendidikan yang lain seperti dana mencukupi, media lengkap, bahan pelajaran tersedia, sarana dan prasarana baik, lingkungan belajar kaya, tetapi pelaksana-pelaksana pendidikan tidak berkompetensi dan tidak berdedikasi belum tentu tujuan pendidikan akan tercapai.[8]

Manajemen personil adalah segenap proses penataan yang bersangkut-paut dengan masalah memperoleh dan menggunakan tenaga kerja di sekolah dengan efisien, demi tercapainya tujuan sekolah yang telah ditentukan sebelumnya. Segenap proses penataan yang dimaksud meliputi perencanaan pegawai, cara memperoleh tenaga kerja yang tepat, cara menempatkan dan penugasan, cara pemeliharaannya, cara pembinaannya, cara mengevaluasinya, cara pemutusan hubungan kerja.

Jenis personil di sekolah ditinjau dari tugasnya yaitu:[9]

  1. Tenaga Pendidik

Tenaga pendidik terdiri atas pembimbing, penguji, pengajar, dan pelatih.

  1. Tenaga Fungsional Kependidikan

Tenaga fungsional pendidikan terdiri atas pengawas, peneliti, dan pengembang di bidang pendidikan dan pustakawan.

  1. Tenaga Teknis Kependidikan

Tenaga teknis kependidikan terdiri atas laboran dan teknisi sumber belajar.

  1. Tenaga Pengelola Satuan Pendidikan

Tenaga pengelola satuan pendidikan terdiri atas kepala sekolah, direktur, ketua, rektor, dan pimpinan satuan pendidikan luar sekolah.

  1. Tenaga Administratif: Staf Tata Usaha

 

  1. Manajemen Organisasi Sekolah

Organisasi secara etimologi berasal dari bahasa latin organum yang berarti alat. Sedangkan dalam bahasa Inggris organize berarti mengorganisasikan yang menunjukkan tindakan atau usaha untuk mencapai sesuatu. Jika dikaitkan dengan pendidikan, organisasi adalah tempat untuk melakukan aktivitas pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan.[10]

Struktur adalah mekanisme organisasi, yang mana pada struktur itulah ditentukan apa yang harus dikerjakan oleh setiap personalia organisasi dan akan tampak pula pekerjaan-pekerjaan mana yang bisa digabungkan dibawah satu ketua. Salah satu fungsi atau tugas manajemen adalah mengorganisasi. Dalam tugas ini tidak dimaksud manajer membuat organisasi atau menggerakkan para anggota organisasi, akan tetapi membuat struktur atau merumuskan mekanisme kerja bagi organisasinya.[11]

Keberadaan struktur organisasi menjadi pembeda utama antara organisasi formal dan informal. Struktur organisasi formal atau sekolah dimaksudkan untuk menyediakan penugasan kewajiban dan tanggung jawab kepada personel dan membangun hubungan tertentu diantara orang-orang pada berbagai kedudukan. Struktur dalam organisasi formal (sekolah) memperlihatkan unsur administrasi diantaranya kedudukan, hierarki kekuasaan, serta kedudukan garis dan staf.[12]

 

  1. Manajemen Tata Laksana Sekolah

Tata laksana artinya sekumpulan aktivitas kerja terstruktur dan saling terkait yang menghasilkan keluaran yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Atau serangkaian tindakan sistematis dengan menggunakan alat kerja atau sarana kerja untuk menghasilkan bagian-bagian kelengkapan keluaran suatu tatalaksana (business process).

Manajemen suatu tatalaksana (business process) harus memenuhi beberapa prinsip sebagai berikut:

  1. Definitif

Suatu tatalaksana (business process) harus memiliki batasan, masukan, serta keluaran yang jelas.

  1. Urutan

Suatu tatalaksana (business process) harus terdiri dari aktivitas yang berurut sesuai waktu dan ruang.

  1. Pelanggan

Suatu tatalaksana (business process) harus mempunyai penerima hasil proses.

  1. Nilai tambah

Transformasi yang terjadi dalam proses harus memberikan nilai tambah pada penerima.

  1. Keterkaitan

Suatu proses tidak dapat berdiri sendiri, melainkan harus terkait dalam suatu struktur organisasi.

 

  1. Manajemen Keuangan Sekolah

Manajemen keuangan dapat diartikan sebagai tindakan pengurusan/ketatausahaan keuangan yang meliputi pencatatan, perencanaan, pelaksanaan, pertanggungjawaban, dan pelaporan (Depdiknas Ditjen Dikdasmen, 2007). Dengan demikian, manajemen keuangan sekolah merupakan rangkaian aktivitas mengatur keuangan sekolah mulai dari perencanaan, pembukuan, pembelanjaan, pengawasan, dan pertanggung-jawaban keuangan sekolah.

Beberapa kegiatan manajemen keuangan yaitu memperoleh dan menetapkan sumber-sumber pendanaan, pemanfaatan dana, pelaporan, pemeriksaan, dan pertanggungjawaban (Lipham, 1985; Keith, 1991). Dalam manajemen keuangan sekolah terdapat rangkaian aktivitas yang terdiri dari perencanaan program sekolah, perkiraan pemasukan dan pengeluaran dalam pelaksanaan program, pengesahan, dan penggunaan anggaran sekolah.

Menejemen keuangan Sekolah digunakan untuk membiayai pelaksanaan program sekolah secara efektif dan efisien. Oleh karena itu, tujuan manajemen keuangan adalah:

1) meningkatkan keefektifan dan efisiensi penggunaan keuangan sekolah

2) meningkatkan akuntabilitas dan transparansi keuangan sekolah

3) meminimalkan penyalahgunaan anggaran sekolah

Untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan kreativitas kepala sekolah dalam menggali sumber-sumber dana, menempatkan bendaharawan yang menguasai dalam pembukuan dan pertanggung-jawaban keuangan, serta memanfaatkannya secara benar sesuai peraturan perundangan yang berlaku

Manajemen keuangan sekolah perlu memperhatikan sejumlah prinsip. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 48 menyatakan bahwa pengelolaan dana pendidikan berdasarkan pada prinsip keadilan, efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas publik. Disamping itu, prinsip keefektifan juga perlu mendapat penekanan. Dengan demikian, prinsip manajemen dana pendidikan meliputi transparansi, akuntabilitas, keefektifan, dan efisiensi.

 

 

 


 

BAB II

PEMBAHASAN

Manajemen Kegiatan Ekstrakurikuler Dalam Meningkatkan Kualitas Sekolah[13]

Oleh: Irma Septiani dan Bambang Budi Wiyono

 

Kegiatan ekstrakurikuler merupakan lahan untuk beraktualisasi diri yang kadang tidak ditemui dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari, baik dalam kepemimpinan, olahraga, kesenian, dan religi. Pengembangan ekstrakurikuler dapat bermanfaat bagi sekolah yaitu sebagai sarana untuk promosi sekolah kepada masyarakat khususnya masyarakat sekitar sekolah. Dengan prestasi yang diperoleh sekolah maka akan meningkatkan derajat sekolah dimata masyarakat. Kegiatan-kegiatan yang diadakan dalam program ekstrakurikuler didasari atas tujuan dari pada kurikulum sekolah. Melalui kegiatan ekstrakurikuler yang beragam siswa dapat mengembangkan bakat, minat dan kemampuannya. Pendidikan bertujuan untuk menyediakan lingkungan yang memungkinkan siswa untuk mengembangkan potensi, bakat dan kemampuannya secara optimal, sehingga mereka mampu mewujudkan dirinya dan berfungsi sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan pribadinya maupun kebutuhan masyarakat.

Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar matapelajaran dan pelayanan konseling untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berwenang di sekolah. Dengan semakin berkembangnya kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, perlu adanya tindakan manajemen dan tindakan pembinaan yang baik sehingga kegiatan tersebut benar-benar bermanfaat bagi siswa. Selain memiliki berbagai macam jenis kegiatan ekstrakurikuler yang dari segi proses menejemennya bagus, SMA Negeri 1 Malang ini juga mempunyai kulaitas yang sangat bagus dari segi manajemen sekolahnya. Hal itu terbukti dari diperolehnya sertifikat ISO 9001:2008.

Proses Perencanaan Kegiatan Ekstrakurikuler di SMA Negeri 1 Malang

Prinsip dalam proses perencanaan kegiatan ekstrakurikuler di SMA Negeri 1 Malang

berhubungan dengan tata tertib. Proses pembuatan rancangan kegiatan ekstrakurikuler yaitu

melakukan inventarisir jenis kegiatan ekstrakurikuler, menyusun jadwal pelaksanaan kegiatan, menyusun pedoman pelaksanaan kegiatan, mengadakan rapat untuk menentukan Pembina kegiatan, mensosialisasikan rancangan program tersebut kepada guru dan komite sekolah. Pihak yang telibat dalam proses pembuatan rancangan program kegiatan ekstrakurikuler yaitu Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah bagian Kesiswaan, tim tata tertib dari bagian kurikulum, dan Pembina kegiatan ekstrakurikuler. Pihak yang telibat dalam proses pembuatan rancangan program kegiatan ekstrakurikuler yaitu Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah bagian Kesiswaan, tim tata tertib dari bagian kurikulum, dan Pembina kegiatan ekstrakurikuler. Hasil dari proses perencanaan dalam kegiatan ekstrakurikuler di SMA Negeri 1 Malang yaitu berupa program kegiatan ekstrakurikuler. Dengan adanya perencanaan yang matang dapat memudahkan dalam setiap kegiatan yang telah ditentukan

bersama guna mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

Proses Pengorganisasian Kegiatan Ekstrakurikuler di SMA Negeri 1 Malang

Pengorganisasian (Organizing) merupakan suatu cara pengaturan pekerjaan dan pengalokasian pekerjaan diantara para anggota organisasi sehingga tujuan pengorganisasian dapat dicapai secara efektif dan efisien. Pada proses pengorganisasian di SMA Negeri 1 Malang struktur organisasi yang berfungsi memudahkan setiap pembagian tugas dan melatih tanggung jawab setiap anggota kegiatan ekstrakurikuler dan mempermudah koordinasi dan komunikasi para anggota kegiatan ekstrakurikuler. Proses pengorganisasian yang dilakukan oleh pihak sekolah sudah berjalan optimal. Semua itu dapat berjalan dengan lancar atas bantuan dari berbagai pihak sesuai dengan bidang yang digeluti oleh masing-masing komponen.

Komponen atau pihak yang terlibat dalam proses pengorganisasian di SMA Negeri 1 Malang yaitu Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah bagian Kesiswaan, Pembina kegiatan ekstrakurikuler dan para pengurus kegiatan ekstrakurikuler (siswa) agar proses pengorganisasian dapat berjalan dengan lancar.

Dengan adanya proses pengorganisasian terhadap kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dapat memudahkan dalam proses koordinasi dan kerjasama antara pihak-pihak yang terlibat dalam implementasi kegiatan dalam sebuah organisasi.

Proses Penggerakan Kegiatan Ekstrakurikuler di SMA Negeri 1 Malang

Penggerakan adalah sebagai keseluruhan usaha, cara, teknik dan metode untuk mendorong anggota organisasi agar mau dan ikhlas bekerja dengan sebaik mungkin demi tercapainya tujuan organisasi dan efisien, efektif dan dinamis. Proses penggerakan atau pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler di SMA Negeri 1 Malang yaitu diatur dan disusun secara tertulis agar kegiatan yang dijalankan dapat terarah dan berjalan dengan lancar sesuai dengan pedoman, penggerakan atau pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler dimulai dari awal tahun pelajaran. Pihak yang terlibat dalam proses penggerakan atau pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler di SMA Negeri 1 Malang yaitu Pembina kegiatan dan anggota kegiatan ekstrakurikuler (siswa). Komponen yang harus diperhatikan dalam proses penggerakan atau

pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler di SMA Negeri 1 Malang yaitu sarana dan prasarana serta surat permohonan izin yang digunakan untuk menunjang dan mendukung kelancaran proses penggerakan kegiatan ekstrakurikuler.

Proses Pengawasan Kegiatan Ekstrakurikuler di SMA Negeri 1 Malang

Pengawasan adalah proses mengarahkan seperangkat variabel /unsur (manusia, peralatan mesin, organisasi) kearah tercapainya suatu tujuan atau sasaran manajemen. Pengendalian dan pengawasan diperlukan untuk mengetahui apakah pelaksanaan suatu kegiatan dalam organisasi sesuai dengan rencana dan tujuan yang telah digariskan atau ditetapkan. Pengawasan (controlling) merupakan fungsi manajemen yang tidak kalah pentingnya dalam suatu organisasi.

Proses pengawasan pada kegiatan ekstrakurikuler di SMA Negeri 1 Malang yaitu dilakukan oleh pihak sekolah dan kegiatan pengawasan tersebut berlangsung pada saat latihan kegiatan ekstrakurikuler berlangsung serta pada saat ada kegiatan kompetisi kegiatan ekstrakurikuler.

 


 

BAB IV

PENUTUP

  1. Simpulan

Ruang lingkup manajemen pendidikan dapat dilihat dari 4 sudut pandang, yaitu dari sudut wilayah kerja, objek garapan, fungsi atau urutan kegiatan dan pelaksana.

Ruang lingkup manajemen pendidikan meliputi:

  1. Manajemen kurikulum
  2. Manajemen siswa
  3. Manajemen personal sekolah
  4. Manajemen organisasi sekolah
  5. Manajemen tata laksana sekolah
  6. Manajemen keuangan sekolah

 

  1. Saran

Demikianlah makalah yang dapat kami sajikan sebagai bahan pembelajaran kita bersama. Semoga dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Selanjutnya kritik dan saran selalu kami nantikan dari para pembaca yang budiman demi terciptanya makalah kami yang lebih baik lagi kedepannya.

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Didin Kurniadin dan Imam Machali, Manajemen Pendidikan: Konsep dan Prinsip Pengelolaan Pendidikan. Yogjakarta: Ar-Ruzz Media

Irma Septiani dan Bambang Budi Wiyono. 2012. Manajemen Kegiatan Ekstrakurikuler Dalam Meningkatkan Kualitas Sekolah. Jurnal Manajemen Pendidikan Vol. 23, No. 5. Malang: Universitas Negeri Malang

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 2013. Pengelolaan Keuangan Sekolah/Madrasah. Bahan Diktat Kepala Sekolah. Jakarta: Lembaga Pengembangan Dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (Lppks)

Made Pidarta, Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta

Oemar Hamalik. 2010. Manajemen Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Suharsimi Arikunto dan Lia Yuliana. 2008. Manajemen Pendidikan. Yogyakarta:Aditya Media.

 

[1] Prof. Dr. Suharsimi Arikunto dan Lia Yuliana, S.Pd. 2008. Manajemen Pendidikan. (Yogyakarta: Aditya Media). Hal. 5-8.

[2] Prof. Dr. Suharsimi Arikunto dan Lia Yuliana, S.Pd. 2008. Manajemen Pendidikan. (Yogyakarta: Aditya Media). Hal. 131.

[3] Prof. Dr. Suharsimi Arikunto dan Lia Yuliana, S.Pd. 2008. Manajemen Pendidikan. (Yogyakarta: Aditya Media). Hal. 133-139.

[4] Prof. Dr. Oemar Hamalik. 2010. Manajemen Pengembangan Kurikulum. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya). Hal 133-134.

[5] Prof. Dr. Suharsimi Arikunto dan Lia Yuliana, S.Pd. 2008. Manajemen Pendidikan. (Yogyakarta: Aditya Media). Hal. 140-141.

[6] Prof. Dr. Suharsimi Arikunto dan Lia Yuliana, S.Pd. 2008. Manajemen Pendidikan. (Yogyakarta: Aditya Media). Hal. 57.

[7] Prof. Dr. Suharsimi Arikunto dan Lia Yuliana, S.Pd. 2008. Manajemen Pendidikan. (Yogyakarta: Aditya Media). Hal. 57-60.

[8] Made, Pidarta. Manajemen Pendidikan Indonesi., (Jakarta: Rineka Cipta, 2004). Hal. 108

[9] Suharsimi Arikunto dan Lia Yuliana, Manajemen Pendidikan Edisi kesatu. (Yogyakarta: Aditya Media, 2008). Hal. 215-216

[10] Didin Kurniadin dan Imam Machali, Manajemen Pendidikan: Konsep dan Prinsip Pengelolaan Pendidikan. (Yogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2014). Hal. 239

[11] Made, Pidarta, Manajemen Pendidikan Indonesia. (Jakarta: Rineka Cipta, 2004). Hal. 56

[12] Didin Kurniadin dan Imam Machali, Manajemen Pendidikan: Konsep dan Prinsip Pengelolaan Pendidikan. (Yogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2014). Hal. 242

[13] Irma Septiani dan Bambang Budi Wiyono. Manajemen Kegiatan Ekstrakurikuler Dalam Meningkatkan Kualitas Sekolah. Jurnal Manajemen Pendidikan Vol. 23, No. 5. (Malang: Universitas Negeri Malang. 2012). Hal. 424-433

 

sumber : https://www.academia.edu/

Facebook Comments

tags: ,

Related For RUANG LINGKUP MANAJEMEN PENDIDIKAN